KPK Minta Nurhadi Kooperatif

    Candra Yuri Nuralam - 03 Februari 2020 22:39 WIB
    KPK Minta Nurhadi Kooperatif
    Eks Sekretaris MA Nurhadi. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta eks Sekretaris MA, Nurhadi, dan menantu Nurhadi, Rezky Herbiono, segera menyerahkan diri. KPK tak segan memanggil paksa Nurhadi dan Rezky jika enggan datang ke markas Lembaga Antirasuah.

    "Kami sampaikan ini para tersangka tetap kooperatif bisa menyerahkan diri atau bisa datang ke Gedung KPK, sebelum nanti kami dari penyidik akan melakukan tindakan," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, 3 Februari 2020.

    KPK membutuhkan keterangan Nurhadi dan Rezky sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung (MA). Keduanya sudah dua kali mangkir dari panggilan penyidik KPK.

    Ali menegaskan KPK siap menjemput paksa kedua tersangka. Penjemputan tidak bakal diawali dengan pemberitahuan.

    "Tidak kami sampaikan kapan waktunya ya, karena tentu ini bagian dari penanganan perkara, bagian dari strategi penyidik untuk bisa agar para tersangka ini hadir," ujar Ali.

    Di sisi lain, Ali mengatakan KPK belum berencana memanggil paksa Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto. Pasalnya, Hiendra memberikan alasan ketidakhadirannya dan penyidik akan menjadwalkan ulang pemeriksaan kepada terduga penyuap Nurhadi itu.

    KPK menetapkan tiga orang tersangka terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi pengurusan perkara di MA. Ketiga tersangka itu yakni, Nurhad, Rezky, dan Hiendra.
     
    Nurhadi dan menantunya Rezky diduga menerima suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA tahun 2011-2016 senilai Rp46 miliar. Suap diterima Nurhadi dan menantunya dari dua pengurusan perkara perdata di MA.
     
    Perkara pertama melibatkan PT Multicon Indrajaya Terminal melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero). Kedua, pengurusan perkara perdata sengketa saham di PT MIT, total penerimaannya mencapai Rp33,1 miliar.
     
    Sedangkan gratifikasi diterima Nurhadi melalui menantunya Rezky dalam rentang Oktober 2014–Agustus 2016, totalnya sekitar Rp12,9 miliar. Gratifikasi ini berkaitan dengan penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian.
     
    Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
     
    Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 junto Pasal 64 ayat (1) KUHP.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id