Dakwaan Soal Pembelian Saham SMRU di Jiwasraya Dinilai Tak Tepat

    Achmad Zulfikar Fazli - 06 September 2020 02:30 WIB
    Dakwaan Soal Pembelian Saham SMRU di Jiwasraya Dinilai Tak Tepat
    Ilustrasi Jiwasraya. MI/Ramdani
    Jakarta: Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) terkait pembelian saham PT SMR Utama Tbk. (SMRU) pada Maret 2018 dinilai tidak tepat. Pasalnya, dua eks direksi Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim dan Harry Prasetyo, sudah tidak menjabat sejak Januari 2018.

    “Di dakwaan, Jiwasraya melakukan pembelian saham SMRU secara direct baru sejak Maret 2018. (Padahal) direksi Jiwasraya, Pak Hendrisman Rahim dan Pak Harry Prasetyo itu menjabat sampai Januari 2018,” ujar kuasa hukum terdakwa perkara Asuransi Jiwasraya Joko Hartono Tirto, Kresna Hutauruk, dalam keterangan resminya, Sabtu, 5 September 2020).

    Menurut Kresna, pembelian saham SMRU pada periode kepemimpinan direksi Asuransi Jiwasraya yang baru. Sedangkan dalam dakwaan JPU, Asuransi Jiwasraya baru membeli saham SMRU pada Maret 2018.

    “Kan sangat aneh perbuatan yang dilakukan oleh direksi baru dituduhkan ke terdakwa yang sudah tidak menjabat,” ujar dia.

    Baca: Keuntungan Jiwasraya 2008-2018 Dinilai Faktual

    Dalam surat dakwaan atas para terdakwa perkara gagal bayar Asuransi Jiwasraya, dijelaskan Asuransi Jiwasraya membeli saham SMRU sejumlah 25.539.500 lembar dengan nilai Rp13,57 miliar pada 28 dan 29 Maret 2018. Sedangkan, eks Direktur Keuangan Asuransi Jiwasraya Harry Prasetyo mengaku terakhir kali menjabat sebagai direksi pada 15 Januari 2018.

    Hal ini disampaikan Harry Prasetyo saat dihadirkan sebagai saksi dalam lanjutan persidangan perkara gagal bayar Asuransi Jiwasraya. Dalam persidangan itu, Harry juga mengeklaim kinerja keuangan Asuransi Jiwasraya mengalami peningkatan pesat pada akhir 2017 hingga awal 2018 bila dibandingkan kondisi 2008.

    “Posisi laporan keuangan itu sangat baik dengan RBC (risk based capital) yang tadinya minus 580 persen menjadi plus, kurang lebih 200-an persen. Itu suatu prestasi, kami menghidupkan kembali mayat hidup yang sudah tak mungkin kembali hidup,” kata Harry dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis, 3 September 2020.

    (AZF)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id