KPK Dalami Seluk Beluk Pengadaan Bansos dari Juliari

    Candra Yuri Nuralam - 31 Januari 2021 08:18 WIB
    KPK Dalami Seluk Beluk Pengadaan Bansos dari Juliari
    Ilustrasi KPK. Medcom.id/Fachri Auhdia Hafiez



    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara pada Jumat, 29 Januari 2021. Penyidik Lembaga Antikorupsi mendalami seluk beluk pengadaan bantuan sosial (bansos) di Kementerian Sosial dari mulut Juliari.

    "Tim penyidik masih terus mendalami melalui pengetahuan para tersangka tersebut terkait tahapan awal perencanaan pengadaan bansos untuk wilayah Jakarta, Bogor, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tahun 2020 di Kemensos," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK bidang penindakan Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Sabtu, 30 Januari 2021.






    Ali mengatakan informasi serupa juga didalami ke tersangka sekaligus pejabat pembuat komitmen (PPK) Kemensos Adi Wahyono dan pemberi suap sekaligus pihak swasta Harry Sidabuke. Mereka juga diperiksa pada Jumat, 29 Januari 2021.

    Ini kali kedua Juliari diperiksa usai ditahan KPK. Pemeriksaan pertama pada Rabu, 23 Desember 2021. Juliari bungkam seharian di depan penyidik.

    Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto menyebut sikap bungkam itu merupakan hak Juliari. Lembaga Antikorupsi akhirnya mengulik informasi dari orang lain.

    "Sekarang kalau ada seorang yang mempunyai informasi dia tidak mau membuka sama sekali kan kita cari yang di bawah," kata Karyoto di Jakarta, Kamis, 21 Januari 2021.

    Juliari Peter Batubara ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan bansos sembako covid-19 di Jabodetabek pada 2020. Kasus ini menjerat empat tersangka lain, yakni dua pejabat pembuat komitmen (PPK) Kemensos Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso, serta pihak swasta Ardian IM dan Harry Sidabuke.

    KPK menduga kongkalikong para tersangka membuat Juliari menerima Rp17 miliar dari dua periode pengadaan bansos sembako. Kasus ini terungkap bermula dari penangkapan Matheus. KPK mengendus adanya pemberian uang dari para tersangka dan sejumlah pihak, salah satunya kepada Juliari.

    Penyerahan uang dilakukan pada Sabtu dini hari, 5 Desember 2020. Fulus Rp14,5 miliar dari Ardian dan Harry itu disimpan dalam tujuh koper, tiga tas ransel, dan amplop kecil.

    Juliari dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

    Matheus dan Adi dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 huruf (i) UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

    Sementara itu, Ardian dan Harry dijerat melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id