Rekomendasi Psikolog Jelang Napi Bebas, Cek Mental Hingga Mimpi Buruk

    Siti Yona Hukmana - 24 Oktober 2020 22:02 WIB
    Rekomendasi Psikolog Jelang Napi Bebas, Cek Mental Hingga Mimpi Buruk
    Ilustrasi: Medcom.id
    Jakarta: Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel merekomendasikan lima hal untuk diperhatikan lembaga pemasyarakatan (lapas) sebelumnya membebaskan narapidana. Lima poin itu dianggap penting agar pemerkosaan terhadap DN, 28 dan pembunuhan Rangga, 9, di Aceh tak terulang. 

    "Pertama, riwayat penyalahgunaan narkoba dan kemungkinan adanya gangguan mental. Pada poin pertama saja kita sudah menemukan relevansinya, ketika narkoba tidak teratasi secara sempurna efeknya pasti akan ke gangguan mental," kata Reza dalam wawancara eksklusif Newsmaker Medcom.id, Sabtu, 24 Oktober 2020. 

    SB, 41, pemerkosa DN dan pembunuh Rangga residivis kasus pembunuhan serta penyalahgunaan narkoba. Dia dikembalikan ke masyarakat dalam kondisi yang masih terpengaruh narkoba. Saat kambuh, dia berbuat kejahatan kepada masyarakat. 

    Rekomendasi kedua ialah mengecek fantasi-fantasi kekerasan narapidana. Dia menduga SB selama dalam lapas selalu menonton dan membaca berita terkait kriminal. Bahkan, kata dia, petugas lapas harus memastikan hingga ke mimpi napi tersebut.

    Baca: Pekik Terakhir Rangga Berjuang Cegah Ibunya Diperkosa

    Menurut dia, jika napi selalu memimpikan hal buruk, seperti pembunuhan baik dalam keadaan sadar atau tidak sadar, bisa dipastikan fantasi kekerasannya luar biasa kental. Reza menyadari setiap orang pasti pernah mimpi buruk. 

    Orang normal, kata dia, tidak akan mimpi buruk setiap hari. Orang yang selalu mimpi buruk bisa dikatakan terobsesi pada kekerasan.

    "Ini yang harus dibongkar dan harus dibina," ujar Konsultan Lentera Anak Foundation itu.

    Ketiga, petugas harus mendeteksi pengekspresian amarah napi. Amarah menjadi cara alami manusia untuk mempertahankan jati dirinya. Hal itu terjadi pada setiap manusia.

    Yang dikhawatirkan, kata Reza, jika amarah itu destruktif, seperti merusak barang atau menyakiti diri sendiri bahkan orang lain. Keempat, mengecek potensi-potensi yang dimiliki napi untuk bekal hidup mandiri, seperti kesiapan finansial dan adaptasi di masyarakat. 

    Kelima, petugas harus mengecek stabilitas hidup napi dari dua hal, yakni tempat tinggal dan tempat kerja. Jika napi berpindah-pindah tempat, mereka dipastikan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan dan tidak bisa menekuni pekerjaan yang dilakoni. 

    "Lima hal ini yang menjadi sebab musabab sekaligus menjadi panduan rehabilitasi yang harus dikenakan kepada para napi, para pelaku kejahatan yang disertai kekerasan," tutur Reza. 

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id