Hukuman Mati Dinilai Berorientasi Pembalasan

    Whisnu Mardiansyah - 10 Desember 2019 17:14 WIB
    Hukuman Mati Dinilai Berorientasi Pembalasan
    Anggota Komisi III DPR Fraksi Partai NasDem Taufik Basari. Foto: MI/Adam Dwi
    Jakarta: Hukuman mati dinilai tidak lagi relevan dengan pemidanaan hukum modern. Pemidanaan mestinya berorientasi pada perbaikan perilaku pelaku kejahatan.

    "Nah yang jadi problem dalam hukuman mati ini ialah kita tidak punya kesempatan memperbaiki si pelaku, mau kejahatannya apa pun itu," kata anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai NasDem Taufik Basari di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Desember 2019.

    Taufik ingin orientasi pemidanaan di Indonesia bersifat keadilan restoratif. Pemidanaan tak lagi berorientasi pada pembalasan pelaku tindak pidana seperti hukuman mati.

    "Tapi sekarang ini sudah restoratif, sudah memperbaiki keadaan, memperbaiki korban, memperbaiki termasuk pelaku," jelas Taufik.

    Taufik menilai hukuman mati pada koruptor tidak menjamin memberikan efek jera. Konsistensi penegakan hukum lebih penting ketimbang mematikan hak hidup seseorang.

    "Efek jera tidak melulu diukur berdasarkan mematikan pelaku. Apakah itu kemudian menimbulkan efek jera?," ucap Taufik.

    Presiden Joko Widodo membuka peluang hukuman mati bagi koruptor. Hal itu dilakukan apabila rakyat menghendaki.

    "Kalau masyarakat berkehendak seperti itu dalam rancangan UU Pidana, UU Tipikor itu dimasukkan," kata Jokowi. 



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id