Petinggi Perum Perindo 'Digarap' KPK

    Juven Martua Sitompul - 11 Desember 2019 12:14 WIB
    Petinggi Perum Perindo 'Digarap' KPK
    Lambang KPK. Foto: MI/Panca Syurkani
    Jakarta: Direktur Operasional Perum Perikanan Indonesia (Perindo) Arief Goentoro dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia akan diperiksa terkait kasus dugaan suap impor ikan 2019.

    “Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RSU (mantan Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda),” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu, 12 Desember 2019.

    Penyidik juga memanggil Komisaris PT Era Baru Abadi Makmur, David Son; Kepala Divisi Pengelolaan Aset Perum Perindo, Wenny Prihatini; dan Direktur PT Era Baru Abadi Makmur, Sugianto. Ketiga saksi dimintai keterangan untuk tersangka yang sama.

    Risyanto menjadi tersangka bersama Direktur Utama PT Navy Arsa Sejahtera (PT NAS) Mujib Mustofa. Risyanto selaku pucuk pimpinan Perum Perindo, yang berwenang mengajukan kuota impor, diduga membantu PT NAS mendapat proyek impor ikan.

    Ihwal kongkalikong pengurusan proyek berawal saat seorang mantan pegawai Perum Perindo mengenalkan Mujib dengan Risyanto. Setelah perkenalan itu, Mujib dan Risyanto membicarakan kebutuhan impor.

    Pada Mei 2019, Mujib dan Risyanto kembali bertemu. Dalam pertemuan itu, Mujib mendapat kuota impor ikan sebanyak 250 ton dari kuota impor Perum Perindo yang disetujui Kemeterian Perdagangan (Kemendag).

    Setelah berhasil diimpor PT NAS, 250 ton ikan kemudian dikarantina di cold storage Perum Perindo. Berdasarkan keterangan Mujib, hal ini dilakukan untuk mengelabui otoritas berwenang agar seolah-olah impor dijalankan Perum Perindo.

    Pada Senin, 16 September 2019, Mujib bertemu dengan Risyanto di salah satu hotel di Jakarta Selatan. Dalam pertemuan tersebut, Risyanto menanyakan kesanggupan Mujib menyiapkan kuota impor ikan tambahan 500 ton untuk Oktober 2019.

    Risyanto menyampaikan permintaan uang sebesar USD30 ribu (setara Rp400 juta) kepada Mujib untuk keperluan pribadi. Risyanto meminta Mujib untuk menyerahkan uang tersebut melalui Adhi Susilo yang menunggu di lounge hotel yang sama.

    Pada Kamis, 19 September 2019, Risyanto dan Mujib bertemu lagi di salah satu kafe di Jakarta Selatan. Mujib menyampaikan daftar kebutuhan impor ikan kepada Risyanto dalam bentuk tabel berisi informasi jenis ikan dan jumlah, termasuk komitmen fee setiap kilogram ikan impor.

    Mujib selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

    Risyanto selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id