Penerima Suap Proyek PUPR Bernyanyi di Sela Pleidoi

    Fachri Audhia Hafiez - 24 Juli 2019 12:28 WIB
    Penerima Suap Proyek PUPR Bernyanyi di Sela Pleidoi
    Sidang pleidoi Kasatker SPAM Strategis sekaligus PPK SPAM Lampung pada Kementerian PUPR Anggiat Partunggul Nahot Simaremare. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
    Jakarta: Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Strategis sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) SPAM Lampung pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Anggiat Partunggul Nahot Simaremare bernyanyi di tengah pembacaan nota pembelaan atau pleidoi. Dia melantunkan lagu rohani berjudul "Walau Ku Tak Dapat Melihat".

    "Walaupun ku tak dapat melihat, ku tak dapat mengerti semua rencanamu Tuhan, namun hatiku padamu," Anggiat bersenandung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Juli 2019.

    Dalam pleidoinya, Anggiat menyesal telah terlibat korupsi serta menerima gratifikasi dalam proyek SPAM strategis. Kasus tersebut kini memengaruhi kehidupan pribadinya hingga membuatnya dijauhi orang-orang terdekatnya.

    "Saat ini saya merasakan bagaimana tidak ada teman yang mendekat, tak ada teman yang bertukar pikiran, istri tak menemani, dan keluarga menjadi pergunjingan karena operasi tangkap tangan (OTT) ini. Tentu saja ini menjadi bentuk hukuman bagi saya," ujar Anggiat.

    Ia mengaku uang suap yang diterimanya untuk kepentingan pribadi serta kepentingan sejumlah proyek SPAM lain di sejumlah daerah. Anggiat pasrah dengan vonis yang akan dijatuhi majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.

    "Saya menyerahkan sepenuhnya vonis dan hukuman saya kepada yang mulia majelis hakim. Apa pun keputusan itu adalah yang paling adil dan terbaik bagi saya pada saat ini," ucap Anggiat.

    Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Anggiat dengan hukuman delapan tahun penjara. Jaksa juga meminta terdakwa dijerat denda Rp400 juta subsider empat bulan kurungan.

    Anggiat dinilai terbukti menerima suap Rp4,98 miliar dan US$5 ribu. Fulus diduga diberikan agar tidak mempersulit pengawasan proyek SPAM strategis. Duit sogokan itu diberikan secara bertahap selama empat tahun, terhitung sejak 13 November 2014-28 Desember 2018.

    Suap diterima Anggiat dalam menjalankan tugas dan wewenangnya selaku kasatker merangkap PPK. Uang itu diterimanya dari PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE), PT Tashida Perkasa Sejahtera (TSP), dan PT Minarta Dutahutama, terkait proyek-proyek di Satker SPAM Direktorat Cipta Karya Kementerian PUPR.

    Uang suap juga diduga memperlancar pencairan anggaran kegiatan proyek di lingkungan Satket SPAM Strategis dan Satker Tanggap Darurat Permukiman Pusat Direktorat Cipta Karya Kementerian PUPR. Proyek ini dikerjakan PT WKE, PT TSP, dan PT Minarta Dutahutama.

    Suap yang diterima Anggiat di antaranya Rp1,13 miliar dari PT WKE atas pengerjaan proyek pembangunan IPA paket IKK Tobelo dan proyek IPA paket IKK Galela Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara-MYC Tahun ke-II. Anggiat kala itu selaku kasatker merangkap PPK Pembinaan Teknis di Satker SPAM Maluku Utara. Penerimaan fee diberikan dalam kurun waktu November 2014-1 Maret 2016.

    Saat menjabat kasatker di Pengembangan SPAM Strategis pada 2018, Anggiat menerima suap dari PT WKE dan PT TSP sebesar Rp2,6 miliar dan US$5 ribu. Uang tersebut diterima sejak 1 Maret-28 Desember 2018.

    Anggiat juga menerima suap saat menjabat sebagai lasatker merangkap PPK proyek SPAM Hongaria paket 2. Ia menerima fee Rp1,25 miliar dari PT Minarta Dutahutama. Fee itu diterima dari Komisaris PT Minarta Dutahutama Leonard Jusminarta Prasetyo melalui Direktur Teknis dan Pemasaran PT Minarta Dutahutama Misnan Misky terhitung sejak Mei-Juni 2018.

    Selain menerima suap, Anggiat juga diduga menerima gratifikasi dalam bentuk 15 mata uang asing. Gratifikasi yang diterima Anggiat, yakni uang sebesar Rp10,058 miliar, US$348.500, SG$77.212, AUS$20.500, HK$147.240, EUR30.825, GBP4.000, RM345.712, CNY85.100, KRW6.775.000, THB158.470, YJP901.000, VND38.000.000, ILS1.800, dan TRY330.

    Baca: Eks Kasatker SPAM Kementerian PUPR Dicegah

    Anggiat diduga menerima gratifikasi selama menjabat sebagai kasatker dan PPK di sejumlah wilayah. Anggiat pernah menjabat sebagai kasatker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Barat 2009-2012. 

    Dia menduduki kursi kasatker di Maluku Utara selama 2013-2016, kasatker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Utara pada 2017. Pada 2018, dia juga diangkat selaku PPK untuk proyek pembangunan SPAM Dumai, Rokan Hilir, dan Bengkalis (Durolis).

    Uang yang diterima Anggiat sebagian digunakan untuk keperluan pribadi. Sebagian fulus disimpan di beberapa rekening bank bercampur dengan pemberian lainnya dari beberapa rekanan sejak 2009-2018.

    Anggiat diduga melanggar Pasal 12 huruf b dan Pasal 12 B Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 KUHP.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id