Penggunaan Pasal di Kasus Novel Kewenangan Penyidik

    Candra Yuri Nuralam - 07 Januari 2020 09:40 WIB
    Penggunaan Pasal di Kasus Novel Kewenangan Penyidik
    Penyidik senior KPK Novel Baswedan. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Penggunaan pasal pada kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menjadi kewenangan penuh penyidik. Keputusan penyidik tak dapat diintervensi.

    "Biarkan penyidik yang bekerja," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Argo Yuwono saat dikonfirmasi, Senin, 6 Januari 2020.

    Argo enggan bicara banyak terkait komentar Novel terhadap kasusnya. Namun, dia mengatakan kasus Novel sudah dijalankan sesuai prosedur.

    "Kan sudah objektif dan transparan, semua (atas) asas praduga tak bersalah," ujar Argo.

    Novel menilai penggunaan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait pengeroyokan kepada penyerangnya, RM dan RB, tidak tepat. Kasusnya dianggap dapat dikategorikan penganiayaan berat.

    "Saya itu diserang dua orang eksekutor pelaku ya yang mereka berdua tapi yang menyerang satu orang," ungkap Novel, Senin, 6 Januari 2019, malam.

    Tersangka penyerang Novel, RM dan RB, dijerat Pasal 170 KUHP subsider Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Pasal 170 KUHP menerangkan pengeroyok dapat diancam pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.

    Novel meminta penyidik Unit V Keamanan Negara Polda Metro Jaya betul-betul memperhatikan hal tersebut. Bila pasal tidak tepat, dia khawatir polisi menemukan masalah pada proses hukum selanjutnya.

    Kerabat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan itu pun menduga ada potensi percobaan pembunuhan berencana pada kasus yang menimpanya. Dia berharap penyidik mau memperdalam masalah ini.

    Novel Baswedan disiram dengan air keras oleh dua orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017. Penyidik senior KPK itu menjadi korban teror usai salat Subuh di Masjid Jami Al Ihsan, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
     
    Pada eranya, eks Kapolri Jenderal Tito Karnavian membentuk Tim Pencari Fakta untuk membedah kasus Novel. Tim yang terdiri dari beragam ahli itu menyimpulkan penyerangan ini terkait pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK.
     
    Pengusutan kasus Novel kemudian dilanjutkan Tim Teknis yang bekerja mulai Kamis, 1 Agustus 2019. Tim yang berisikan personel dengan beragam kemampuan khusus ini bekerja secara senyap.
     
    Dua polisi penyerang Novel, RM dan RB,  akhirnya ditangkap Kamis, 26 Desember 2019. RB, tersangka penyiram air keras, sempat berteriak mencela Novel saat digiring ke Rumah Tahanan (Rutan) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
     
    "Tolong dicatat saya enggak suka sama Novel karena dia pengkhianat," ungkap RB, Sabtu, 28 Desember 2019.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id