comscore

KPK Tak Terbitkan SP3 untuk Kasus Harun Masiku

Fachri Audhia Hafiez - 04 Juni 2022 08:10 WIB
KPK Tak Terbitkan SP3 untuk Kasus Harun Masiku
Buronan kasus suap Harun Masiku/Metro TV
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) untuk kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan calon legislatif (caleg) PDI Perjuangan Harun Masiku. Lembaga Antikorupsi berkomitmen menuntaskan perkara tersebut.

"Sepanjang statusnya yang bersangkutan masih tersangka dan meskipun KPK di Undang-Undang baru punya kewenangan SP3, tapi kan harus jelas statusnya," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat, 3 Juni 2022.
Alex mengatakan KPK memiliki bukti kuat menjerat Harun. Buronan kasus suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024 itu mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Kalau dari alat bukti yang sudah dimiliki KPK, kami tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang bersangkutan itu terlibat dalam tindak pidana korupsi pemberian sesuatu kepada (mantan) komisioner Komisi Pemilihan Umum (Wahyu Setiawan) waktu itu," jelas Alex.

Baca: Tingkat Kesulitan Pencarian Buronan Tak Bisa Disamakan

Alex menekankan KPK masih berupaya mencari keberadaan Harun. Kerja sama dengan aparat penegak hukum (APH) lain sudah dilakukan.

"Bukan berarti terus kami diam saja, kami minta kepolisian RI yg memiliki jaringan aparat sampe ke pelosok Indonesia. Bahkan, sampe punya kerja sama internasional dengan Interpol untuk membantu kami mencari HM (Harun Masiku)," ujar Alex.

Harun Masiku terseret dalam tangkap tangan Wahyu Setiawan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, 8 Januari 2020. Dia diduga mengupayakan PAW caleg PDI Perjuangan Daerah Pemilihan (Dapil) Dapil Sumatra Selatan 1. 

Harun diduga melobi Wahyu lewat mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina. Uang Rp400 juta dalam pecahan mata uang dolar Singapura disita KPK saat tangkap tangan. Sebelumnya, Wahyu diduga telah menerima suap Rp200 juta.

Wahyu telah divonis enam tahun penjara serta denda Rp150 juta subsider enam bulan kurungan. Ia terbukti menerima menerima suap SGD57.350 atau setara Rp600 juta.

(ADN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id