Wawan Minta Solusi Hakim Soal Denda Cicilan

    Medcom - 13 Februari 2020 20:56 WIB
    Wawan Minta Solusi Hakim Soal Denda Cicilan
    Sidang pemeriksaan saksi terdakwa Tubagus Chaeri Wardana. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
    Jakarta: Bos PT Bali Pacific Pragama Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan meminta solusi kepada majelis hakim atas piutang bunga atau denda dari sejumlah aset yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebab, piutang yang dibebankan pihak ketiga terhadap Wawan mencapai ratusan miliar.

    Aset yang dibeli Wawan dengan kredit dan disita KPK di antaranya, berupa puluhan kendaran roda empat, termasuk sejumlah mobil mewah. KPK disebut banyak menyita aset yang bukan milik Wawan, dalam hal ini masih terkait dengan pihak ketiga atau kreditur dan masih belum dibayar lunas.

    Namun, Wawan tetap harus dibebani cicilan kredit membayarnya meski statusnya disita. Sehingga hutang Wawan makin bertambah akibat bunga kredit.

    Kuasa hukum Wawan, TB Sukatma mengatakan jika kewajiban kliennya pada sejumlah pihak ketiga lebih dari Rp250 miliar. Hingga saat ini, kewajiban itu terus ditagih meski aset disita KPK.

    "Perbankan dan sebagainya dan sampai saat ini ditagih terus. Sehingga kami berharap yang mulia bisa memberikan solusi, KPK juga memberi solusi," kata Sukatma kepada majelis hakim dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020.

    Sukatma menilai persoalan di luar perkara hukum ini merupakan hal yang serius. "Ini jangan sampai perkaranya selesai, terdakwa menjalani hukuman terus kemudian anak istrinya dikejar hutang-hutang ini. Jadi mohon yang mulia memberikan solusi," ujar Sukatma.

    Jaksa KPK menyatakan jika penyitaan aset ini terkait proses pengusutan kasus dugaan korupsi dan pencucian uang. Salah satunya, untuk mengembalikan uang yang telah digunakan.

    "Berapa yang sudah dibayarkan kami menarik uang itu kendaraan buat leasing," kata Jaksa KPK, Roy Riady.

    Dalam persidangan, Wawan mengaku tak keberatan jika aset yang disita KPK dijual untuk membayar kewajiban. Bahkan, Wawan mengaku sudah membuat pernyataan kepada sejumlah pihak ketiga terkait hal tersebut.

    "Poinnya saya tidak keberatan dijual dicari titik temu, yang penting persoalan hutang ini beres. Sebenarnya saya sudah buat pernyataan kepada pihak ketiga ini, terutama terkait persoalan mobil-mobil ini, karena mobil-mobil ini harganya susut kemudian tagihan bunganya tambah naik, seperti sekarang ini pokok dari Rp900 jadi Rp4,7 miliar, itu jadi sesuatu yang tidak masuk akal, sementara misal mobil harga Rp2 miliar sekarang jadi Rp800 juta, itu kan jadi nyusut," kata Wawan.

    Wawan Minta Solusi Hakim Soal Denda Cicilan
    Tubagus Chaeri Wardana--Antara/M Agung Rajasa

    Ketua majelis hakim Ni Made Sudani sempat menanggapi dan menengahi persoalan hutang ini. Hakim Ni Made Sudani bahkan sempat mengkritisi upaya penyitaan yang dilakukan KPK namun tak memperhitungkan resiko piutang.

    "Enggak bisa sembunyi di balik kepentingan negara, nda, profesional aja. Dari pihak sini (KPK) juga mengkoreksi dari KPK penuntut umum atau penyidik," ucap hakim Ni Made Sudani.

    Ihwal pembelian sejumlah mobil diklarifikasi oleh jaksa KPK kepada sejumlah saksi yang notabennya pihak ketiga. Salah satu saksi mantan pegawai bank Bukopon Eni Rismaria membenarkan jika Wawan pernah membeli mobil jenis Lamborghini Aventador, Bentley Continental Flying Spur dan Ferrari 458 Spider secara kredit.

    Wawan dalam angsuran kredit mobil diminta membayar selama 36 bulan. Namun, Eni mengaku lupa berapa kredit yang diberikan kepada Wawan untuk membayar mobil tersebut.

    "Seingat saya, Lamborghini Aventador, Bentley, dan Ferrari," ujar Eni.

    Mantan pegawai CIMB Niaga Rudi Heryadi mengatakan, Wawan pernah membeli mobil jenis Nissan keluaran 2012 dengan cara kredit. Akan tetapi persoalan hukum yang merundung Wawan justru membuat angsuran menunggak.

    "Jadi secara otomanitis angsuran munggak," kata Rudi Heryadi saat dihadirkan sebagai saksi.

    Padahal, diakui Rudi, sebelum dirundung persoalan hukum, Wawan merupakan debitur yang baik. “Bapak Tubagus ini bagus. sebelumnya ngga ada masalah dengan CIMB Niaga," ucap Rudi.





    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id