Kivlan dan Habil Marati Akan Dikonfrontasi

    Siti Yona Hukmana - 18 Juni 2019 06:57 WIB
    Kivlan dan Habil Marati Akan Dikonfrontasi
    Mantan Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen (tengah). Foto: Medcom.id/Cindy.
    Jakarta: Tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api, Kivlan Zen, akan dikonfrontasi keterangannya dengan tersangka kasus dugaan percobaan pembunuhan pada tokoh negara, Habil Marati, dan Iwan Kurniawan pada Selasa, 18 Juni 2019. Hal itu membuktikan Kivlan bersalah atau tidak dalam kasus kepemilikan senjata api ilegal dan percobaan pembunuhan. 

    "Besok (hari ini) kemungkinaan akan diadakan gelar perkara atau konfrontasi antara semua saksi-saksi yang terlibat saat itu. Kalau ini terbukti tidak ada kaitan dengan Pak Kivlan, kita minta kasus ini ditutup," kata kuasa hukum Kivlan Zen, Muhammad Yuntri di Polda Metro Jaya, Senin, 17 Juni 2019. 

    Yuntri belum dapat mendapat informasi waktu pemeriksaan kliennya. Yang pasti, kata dia, Kivlan, Iwan dan Habil akan dihadap-hadapkan untuk disamakan keterangannya.

    "Mungkin pagi atau siang. Dengan agenda konfrontasi antara para saksi-saksi tentang kesaksian mereka dengan keterlibatan Pak Kivlan tentang aliran dana, khususnya tentang Habil Marati," ujar dia. 

    Hasil konfrontasi akan menentukan nasib Kivlan. Kasus tersebut akan dilanjutkan bila Kivlan terbukti terlibat dalam percobaan pembunuhan. Sebaliknya, kasus dihentikan dengan diterbitkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) jika tidak terbukti.

    "Kalau itu tidak terbukti Pak Kivlan support aliran dana untuk tujuan yang dituduhkan, baik pembunuhan dan pengadaan senjata api, bagi kita minta kasus Pak Kivlan di SP3-kan," pungkas dia. 

    Baca: Kivlan Zen Akui Terima Duit dari Habil Marati

    Kivlan sebelumnya mengakui menerima uang dari Habil. Dia menerima SGD4.000 setara Rp42.400.000. 

    "Mengakui, tapi tidak sesuai dengan tuduhan. Uang itu hanya untuk demo. Tidak ada kaitan sama sekali dengan masalah pembelian senjata, membunuh tidak ada sama sekali," kata Yuntri.

    Kivlan diperiksa lebih kurang selama 10 jam pada Senin, 17 Juni 2019. Dalam pemeriksaan itu, Kivlan memberikan nomor rekeningnya ke penyidik untuk mengecek aliran uang yang masuk.

    "Dicek tadi rekening. Dikasihkan rekeningnya, terima ke rekening ia terima dan sampaikan ada. Yang satu Rp50 juta. Yang satu lagi SGD4.000 untuk kegiatan antikomunis atau supersemar yang di Monas," tutur Yuntri.   

    Yuntri menerangkan uang Rp50 juta itu diberikan Kivlan kepada anak buahnya Iwan. Uang itu digunakan untuk tour ke daerah-daerah mengantisipasi gerakan-gerakan komunis. 

    "Kemudian, Iwan ditugaskan untuk demo dan dia menyanggupi seribu orang dibawa dari Banten. Nyatanya tidak ada, dan kemudian menghilang," beber Yuntri.

    Baca: Kivlan Zen Minta Perlindungan Hukum ke DPR

    Yuntri mengungkapkan Kivlan dan Habil saling kenal mengenal sejak setahun yang lalu. Mereka kenal lewat sebuah grup di media sosial WhatsApp (WA). 

    Uang yang diterima Kivlan, kata Yuntri, diberikan secara sukarela oleh Habil. Tak ada imbalan apa pun yang diharapkan oleh Habil.

    "Sukarela saja. Mereka kan kenal dari WA grup. Itu grup untuk diskusi saja tentang masalah kebangsaan. Itu ada gerakan GMBI, karena di diskusi itu berkembang butuh uang untuk keperluan gerakan antikomunis, beliau (Habil) kasih," terang Yuntri. 

    Meski telah kenal satu tahun, Yuntri menyebut kliennya tak terlau dekat dengan Politikus PPP itu. "Dekat juga enggak, jauh juga enggak, tapi kenal baik," aku Yuntri.

    Habil Marati disebut sebagai donatur eksekutor empat pejabat negara yang menjadi target pembunuhan. Ia menyerahkan uang Rp60 juta kepada para calon eksekutor. Namanya disebut dalam investigasi majalah Tempo yang berjudul 'Tim Mawar dan Rusuh Sarinah' yang terbit pada Senin, 10 Juni 2019. 

    Habil telah ditahan polisi. Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary mengungkapkan Habil memberi uang kepada mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebesar SGD15 ribu atau setara Rp150 juta. 

    Merujuk laporan Tempo, Kivlan memberikan uang itu kepada anak buahnya, Iwan Kurniawan alias Helmi Kurniawan untuk membeli senjata laras panjang dan pendek. Senjata itu disebut untuk menembak mati Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id