Kejagung Gali Keterangan Ahli dari OJK Terkait Jiwasraya

    Cindy - 06 Januari 2020 22:54 WIB
    Kejagung Gali Keterangan Ahli dari OJK Terkait Jiwasraya
    Ilustrasi gedung Jiwasraya. Foto: MI/Ramdani.
    Jakarta: Kejaksaan Agung memanggil ahli asuransi dan investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi, Senin, 6 Januari 2020. Riswinandi dimintai keterangan sebagai saksi ahli dalam mengusut kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya. 

    "Tentu dia (Riswinandi) dapat membantu dalam proses penyidikan ini. Kami perlu memintai penjelasan kepada ahli," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Adi Toegarisman di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Senin 6 Januari 2020. 

    Adi menjelaskan dalam pendalaman suatu perkara, diperlukan alat bukti. Salah satu alat bukti berasal dari keterangan para ahli. 

    "Para ahli yang berkaitan dengan peristiwa yang diduga korupsi," sambung Adi. 

    Sebelumnya Kejaksaan Agung juga telah memanggil Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen. Selain kedua orang itu, Kejagung akan kembali memanggil pihak OJK berdasarkan perkembangan kasus mendatang. 

    Kejaksaan Agung telah menggarap tujuh saksi untuk mengusut kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya. Enam saksi dari jajaran PT Asuransi Jiwasraya antara lain Kepala Divisi Pertanggungan Perorangan dan Kumpulan Jiwasraya Budi Nugraha, dua mantan Agen Bancassurance Jiwasraya Getta Leonardo Arisanto dan Bambang Harsono, mantan Kepala Pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis Jiwasraya Dwi Laksito, serta Kadiv Penjualan Jiwasraya Erfan Ramsis.
     
    Selain itu, Direktur Utama PT Hanson Internasional Tbk Benny Tjokrosaputro juga kembali dipanggil dalam pemeriksaan hari ini. Benny mangkir pemeriksaan pekan lalu lantaran sakit.

    Jiwasraya diduga banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan besar. Di antaranya penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial.
     
    Lima persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik, sisanya dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Kemudian, penempatan reksa dana sebanyak 59,1 persen senilai Rp14,9 triliun.
     
    Dua persen dikelola manajer investasi dengan kerja baik. Sementara itu, 98 persen dikelola manajer investasi dengan kinerja buruk. Akibatnya, Jiwasraya sampai Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara Rp13,7 triliun.
     
    Sebanyak 10 orang sudah dicegah ke luar negeri oleh pihak Imigrasi terkait kasus Jiwasraya. Mereka berinisial HR, DA, HP, NZ, DW, GL, ER, HD, BT, dan AS.





    (DMR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id