comscore

Pejabat Kemenperin Diperiksa Terkait Korupsi Impor Baja

Siti Yona Hukmana - 28 Juni 2022 07:03 WIB
Pejabat Kemenperin Diperiksa Terkait Korupsi Impor Baja
Kejaksaan Agung. Foto: MI
Jakarta: Sebanyak dua pejabat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) diperiksa terkait kasus korupsi impor besi atau baja, baja paduan, dan produk turunannya periode 2016-2021. Keduanya diperiksa untuk mendalami keterlibatan enam tersangka korporasi.

"Saksi-saksi yang diperiksa atas nama enam tersangka korporasi, yaitu RAW selaku Koordinator Industri Logam Besi Kementerian Perindustrian," kata Kapuspenkum Kejaksaan Agung (Kejagung) Ketut Sumedana dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Juni 2022.
Kemudian, MH selaku Sub Koordinator Industri Logam Kemenperin. Penyidik juga memeriksa seorang saksi untuk tiga tersangka perorangan. Saksi itu ialah AK selaku Presiden Direktur PT Jindal Stainless Indonesia.

"Diperiksa guna menjelaskan terkait dampak yang dialami atas meningkatnya impor besi baja, baja paduan, dan produk turunannya periode 2016-2021 terhadap produksi perusahaan," kata Ketut.

Pemeriksaan ketiga saksi dilakukan pada Senin, 27 Juni 2022. Ketut tak membeberkan hasil pemeriksaan. Namun, keterangan saksi dibutuhkan untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan.

Kejagung menetapkan tiga tersangka dalam kasus itu, yaitu Tahan Banurea (TB) selaku Analis Perdagangan Ahli Muda pada Direktorat Impor Ditjen Daglu Kemendag; Manager PT Meraseti Logistik Indonesia Taufiq (T); dan pemilik PT Meraseti Logistik Indonesia Budi Hartono Linardi (BHL).

Budi meloloskan proses importasi besi dan baja enam perusahaan importir dengan mengurus surat penjelasan (sujel) di Direktorat Impor. Keenam perusahaan tersebut adalah PT Bangun Era Sejahtera, PT Duta Sari Sejahtera, PT Inti Sumber Bajasakti, PT Jaya Arya Kemuning, PT Perwira Aditama Sejati, dan PT Prasasti Metal Utama. Keenam perusahaan itu juga telah ditetapkan sebagai tersangka.
 

Baca: Kejagung Periksa 9 Saksi Kasus Korupsi Impor Besi Baja


Pengurusan sujel itu dilakukan Budi dan Taufiq dengan menyerahkan uang kepada Tahan dan seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kemendag berinisial C yang saat ini telah meninggal dunia. Menurut Ketut, sujel yang diurus Budi dan Taufiq digunakan untuk mengeluarkan besi dan baja dari wilayah pabean seolah-olah impor untuk kepentingan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan beberapa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketiga tersangka telah ditahan. Mereka dijerat Pasal 2 Ayat (1) subsider Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang tindak pidana korupsi (Tipikor) serta Pasal 5 Ayat (1) huruf b dan Pasal 13 UU Tipikor jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

(JMS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id