KPK Usut Pemakaian Pelat Mobil Kementerian PANRB oleh Istri Nurhadi

    Candra Yuri Nuralam - 30 Maret 2021 16:27 WIB
    KPK Usut Pemakaian Pelat Mobil Kementerian PANRB oleh Istri Nurhadi
    Mantan Sekretaris MA Nurhadi Abdurrachman dihadirkan dalam konferensi pers KPK, Selasa, 2 Juni 2020. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam



    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Kepala Pul Mobil Dinas pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Taryono. Dia menjadi saksi kasus dugaan upaya mencegah dan merintangi penyidikan perkara mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi.

    "Taryono dikonfirmasi terkait dengan dugaan penggunaan pelat nomor polisi milik Kementerian PANRB oleh Tin Zuraida (istri Nurhadi) untuk keperluan pihak tertentu," kata pelaksana tugas juru bicara KPK bidang penindakan Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Selasa, 30 Maret 2021.






    Ali enggan memerinci lebih lanjut pertanyaan penyidik kepada Taryono. Dia memilih irit bicara demi menjaga kerahasiaan proses penyidikan.

    Baca: Keterlibatan Sekretaris KemenpanRB Terkait Merintangi Penyidikan Nurhadi Didalami

    KPK juga memanggil anak Nurhadi, Rizki Aulia, pada Senin, 29 Maret 2021. Lembaga Antikorupsi mendalami keberadaan tersangka pembantu pelarian Nurhadi, Ferdy Yuman, dari Rizki.

    "Rizki dikonfirmasi terkait proses penyewaan rumah yang berlokasi di Simprug Jaksel dan juga mengenai pengetahuan saksi soal keberadaan tersangka FY (Ferdy Yuman) setelah dilakukan penangkapan terhadap tersangka NHD (Nurhadi)," ujar Ali.

    Tersangka Ferdy Yusman berperan sebagai orang yang menyewakan rumah untuk Nurhadi di Jalan Simprug Golf 17 Suites 1, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dia membayar Rp490 juta kepada pemilik agar rumah itu bisa ditempati Nurhadi.
     
    Ferdy ada di rumah itu saat KPK menangkap Nurhadi pada 1 Juni 2020. Namun, dia kabur menggunakan mobil berpelat palsu saat tim KPK mendekatinya.
     
    Dia disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.
     
    Sementara itu, Nurhadi sudah divonis enam tahun penjara serta denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan atas kasus suap penanganan perkara di MA. Menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono, juga mendapat hukuman serupa.
     
    Keduanya terbukti menerima Rp35,7 miliar dan gratifikasi Rp13,7 miliar terkait pengaturan sejumlah perkara di lingkungan peradilan. Vonis hakim lebih ringan dari tuntutan jaksa. Nurhadi dituntut pidana 12 tahun penjara, sedangkan Rezky 11 tahun.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id