Paparan Komnas HAM Terkait Penyebab Memar pada Jenazah Pengikut Rizieq

    Siti Yona Hukmana - 08 Januari 2021 20:41 WIB
    Paparan Komnas HAM Terkait Penyebab Memar pada Jenazah Pengikut Rizieq
    Mobil polisi yang diserang pengikut Rizieq/Medcom.id/Siti Yona Hukmana
    Jakarta: Komisi Nasional (Komnas) HAM menerima 32 foto kondisi enam jenazah pengikut Rizieq Shihab yang tewas di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek. Puluhan foto dianalisa bersama ahli forensik kedokteran dan psikologi forensik untuk mengetahui penyebab memar yang terdapat di tubuh enam eks laskar khusus Front Pembela Islam (FPI) itu.  

    "Beberapa foto yang menunjukkan luka selain luka tembak dan jahitan akibat autopsi, bukan akibat dari tindakan kekerasan. Termasuk informasi akibat pembakaran, karena konsekuensi dari waktu dan kondisi tubuh jenazah," kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Choirul Anam dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, 8 Januari 2021.

    Anam mengatakan forensik kedokteran memberikan pandangannya dengan melihat perbandingan foto dari keluarga, proses autopsi serta paparan powerpoint (PPT) dari kepolisian. Kemudian, Komnas HAM juga mendengarkan penjelasan terkait kondisi mobil, khususnya lubang peluru dan melihat foto kondisi mobil yang ditumpangi korban.

    "Terdapat luka akibat tembakan pada enam jenazah tersebut sebanyak 18 luka tembak, terdapat luka jahitan akibat tindakan autopsi," ujar Anam.

    Anam mengatakan sebanyak dua orang meninggal dunia akibat kontak tembak dengan polisi di KM 50 Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Sedangkan, empat lainnya tewas di dalam mobil karena menerima tindakan tegas dan terukur.

    Baca: 4 Rekomendasi Komnas HAM Terkait Penembakan 6 Pengikut Rizieq

    Keempat orang itu disebut polisi melakukan perlawanan saat dibawa menuju ke Polda Metro Jaya. Penembakan empat orang ini dinilai Komnas HAM melanggar HAM. Sebab, polisi tidak melakukan upaya lain untuk menghindari semakin banyaknya korban jiwa atas insiden itu.

    "Mengindikasikan adanya tindakan unlawfull killing terhadap empat orang anggota laskar FPI," kata Anam.

    Anam meminta peristiwa meninggalnya empat orang yang masuk pelanggaran HAM itu ditindaklanjuti hingga ke penegakan hukum. Terutama, kata dia, dilakukan dengan mekanisme peradilan pidana.

    "Guna mendapatkan kebenaran materil lebih lengkap dan guna menegakkan keadilan. Tidak boleh hanya dilakukan dengan internal, tapi dengan mekanisme pengadilaan pidana," ujar Anam.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id