comscore

Pemilik Pinjol yang Meneror Ibu Hingga Bunuh Diri Diringkus

Fachri Audhia Hafiez - 23 Oktober 2021 09:54 WIB
Pemilik Pinjol yang Meneror Ibu Hingga Bunuh Diri Diringkus
ilustrasi/medcom.id
Jakarta: Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri meringkus pemilk perusahaan pinjaman online (pinjol) ilegal. Pemodal itu diduga terlibat dalam penagihan utang yang mengakibatkan seorang ibu rumah tangga berinisial WPS, 38, di Wonogiri, Jawa Tengah, nekat bunuh diri.

"Ditangkap saudarai JS yang merupakan fasilitator warga negara asing (WNA) Tiongkok, perekrut masyarakat untuk menjadi ketua koperasi simpan pinjam (KSP) maupun direktur PT fiktif yang digunakan sebagai operasional pinjol ilegal," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Helmy Santika saat konfirmasi, Sabtu, 23 Oktober 2021.
KSP tersebut bernama Solusi Andalan Bersama (SAB). Perusahaan itu membuat aplikasi pinjol dengan nama Fulus Mujur.

Menurut Helmy, perusahaan itu juga memiliki aplikasi pinjol lain yang bernama Pinjaman Nasional. Aplikasi tersebut digunakan WPS.

"Pengungkapan ini terkait dengan penanganan laporan terkait pinjol KSP SAB yang mengelola berbagai macam aplikasi pinjol," terang Helmy.

Selain JS, polisi menangkap Ketua KSP Solusi Andalan Bersama berinisial MDA dan SR. Polisi menyita akta pendirian KSP Solusi Andalan Bersama, perjanjian kerjasama dengan payment gateway, ponsel, dan uang Rp 20,4 miliar pada rekening bank atas nama KSP Solusi Andalan Bersama.

"Lalu, disita uang senilai Rp11 juta pada rekening bank atas nama KSP Solusi Andalan Bersama. Dari SR disita HP," beber Helmy.

Sementara itu, korban WPS disebut menerima informasi pinjaman tersebut lewat SMS pada Juli 2021. Perusahaan mengimingi korban dengan bunga rendah dan tenor panjang tanpa ada pemotongan biaya.

Baca: Cari Untung Besar, Perusahaan Pinjol Bermain di Legal dan Ilegal

Korban mengajukan pinjaman sebesar Rp1,2 juta dengan tenor 91 hingga 140 hari. Namun, WPS kaget lantaran menerima beberapa pinjaman sejumlah uang Rp1,2 juta hingga Rp1,6 juta.

"Tenornya tujuh hari tanpa adanya persetujuan dari korban serta korban merasa kaget karena mendapatkan banyak kiriman uang," ujar Helmy.

Lalu, korban menerima pesan ancaman dari beberapa nomor tak dikenal yang melakukan penagihan utang. Pesan itu disertai dengan ancaman.

Helmy mendorong agar masyarakat dapat melapor ke polisi lewat nomor hotline apabila menemukan praktik pinjol ilegal.  "0812-1001-9202 nomor hotline untuk terima SMS dan WA pengaduan," kata dia.

(NUR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id