Hakim Diminta Tolak Permohonan JC Dua Direktur PTPN III

    Fachri Audhia Hafiez - 13 Mei 2020 16:58 WIB
    Hakim Diminta Tolak Permohonan JC Dua Direktur PTPN III
    Mantan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) Dolly Pulungan. MI/Adam Dwi
    Jakarta: Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta permohonan justice collaborator (JC) eks Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PT PN) III Dolly Parlagutan Pulungan, dan eks Direktur Pemasaran PT PN III I Kadek Kertha Laksana tak dikabulkan. Keduanya dianggap tidak memenuhi syarat untuk menerima JC.

    Permintaan itu menjadi bagian dari amar tuntutan JPU KPK kepada Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Dolly dan Kadek merupakan terdakwa suap terkait distribusi gula kristal putih.

    "Bahwa di depan persidangan Terdakwa tidak mengungkap informasi suatu tindak pidana yang dilakukan pihak lain yang terlibat dalam perkara a quo maupun perkara tindak pidana korupsi lainnya. Sehingga kami berpendapat permohonan JC tersebut patut untuk tidak dikabulkan," kata JPU KPK Zaenal Abidin dalam sidang virtual, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020.

    Jaksa berpendapat Dolly dan Kadek bukan pelaku utama dalam perkara tersebut. Keduanya juga tidak terbuka dan berterus terang dalam memberikan keterangan di persidangan.

    Dolly dituntut hukuman selama enam tahun penjara serta terancam dena Rp300 juta subsider enam bulan kurungan. Sedangkan Kadek terancam dihukum lima tahun serta denda Rp200 juta subsider empat bulan bui.

    Keduanya diyakini terbukti melanggar Pasal 12 huruf b Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

    Baca: Eks Dirut PTPN III Dituntut 6 Tahun Penjara

    Menerima Rp3,55 miliar

    Dolly bersama Kadek diyakini terbukti menerima suap SGD345 atau setara Rp3,55 miliar terkait distribusi gula kristal putih. Fulus tersebut berasal dari Direktur Utama PT Fajar Mulia Transindo sekaligus penasihat PT Citra Gemini Mulia Pieko Nyotosetiadi.

    Suap dilakukan agar Dolly dan Kadek memberikan long term contract (LTC) kepada Pieko atas pembelian gula kristal putih yang diproduksi petani gula dan PT PN di seluruh Indonesia. Distribusi gula diakomodasi melalui PT PN III holding perkebunan.

    LTC merupakan kontrak jangka panjang yang mewajibkan konsumen membeli gula dari PT PN III dengan ikatan perjanjian. Penjual menentukan harga setiap bulan. Hal ini guna mencegah permainan dari pembeli yang hanya membeli gula saat harga murah.

    "Terdakwa adalah seorang yang sehat jasmani dan rohani, mempunyai kemampuan untuk menginsafi hakikat dari tindakan yang dilakukannya serta dapat menentukan kehendak sendiri atas tindakannya apakah akan dilaksanakan atau tidak. Sehingga Terdakwa memiliki kemampuan untuk mempertangungjawabkan perbuatannya secara hukum," tegas jaksa.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id