Ekstradisi Pembobol BNI Maria Pauline Sempat Dihalangi

    Fachri Audhia Hafiez - 09 Juli 2020 10:31 WIB
    Ekstradisi Pembobol BNI Maria Pauline Sempat Dihalangi
    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa, berhasil diekstradisi dari Serbia ke pemerintah Indonesia setelah 17 tahun buron. DOK Kemenkumham
    Jakarta: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly mengungkapkan proses ekstradisi tersangka kasus pembobolan BNI, Maria Pauline Lumowa, dari Serbia tak mudah. Proses pemulangan Maria sempat dihalang-halangi.

    "Sempat ada upaya hukum dari Maria untuk melepaskan diri dari proses ekstradisi. Ada juga upaya dari salah satu negara Eropa untuk mencegah ekstradisi terwujud," ujar Yasonna dalam keterangan pers, Kamis, 9 Juli 2020.

    Namun, Yasonna tidak memerinci kendala yang dihadapi delegasi Indonesia dalam proses ekstradisi tersebut. Termasuk, negara yang berusaha mencegah proses diplomasi itu.

    Namun, Presiden Serbia Aleksandar Vucic telah menunjukkan komitmen mengekstradisi Maria Pauline Lumowa ke Indonesia. Yasonna menyebut proses ekstradisi ini merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang mendapat perhatian langsung dari kepala negara.

    Selain itu, ekstradisi Maria tak lepas dari asas resiprositas atau timbal balik. Indonesia pernah mengabulkan permintaan Serbia mengekstradisi pelaku pencurian data nasabah Nikolo Iliev pada 2015.

    "Lewat pendekatan tingkat tinggi dengan para petinggi Pemerintah Serbia dan mengingat hubungan sangat baik antara kedua negara, permintaan ekstradisi Maria Pauline Lumowa dikabulkan," ujar Yasonna.

    Maria merupakan salah satu tersangka pembobol BNI melalui L/C fiktif pada 2003. Negara dirugikan Rp1,2 triliun dari kejahatannya.

    (Baca: Buron 17 Tahun, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia)

    Maria melarikan diri ke Singapura pada September 2003. Keberadaannya terendus di Belanda pada 2009.

    Pemerintah Indonesia melakukan upaya pengejaran tanpa henti sejak Maria melarikan diri. Termasuk menyampaikan permintaan ekstradisi kepada Pemerintah Kerajaan Belanda.

    Maria yang saat itu merupakan warga negara Belanda tidak berhasil diekstradisi ke Indonesia. Pasalnya, Indonesia belum memiliki perjanjian bilateral di bidang ekstradisi dengan Belanda.

    Selain itu, hukum negara Belanda tidak mengizinkan warga negaranya diekstradisi ke negara yang belum memiliki perjanjian bilateral di bidang ekstradisi. Pemerintah Kerajaan Belanda memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa disidangkan di Belanda.

    Upaya penegakan hukum memasuki babak baru saat Maria ditangkap oleh NCB Interpol Serbia pada 16 Juli 2019 di Bandara Internasional Nikola Tesla, Beograd, Serbia. Dia terdeteksi berdasarkan red notice Interpol dengan nomor kontrol A-1361/12-2003.

    "Pemerintah bereaksi cepat dengan menerbitkan surat permintaan penahanan sementara yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan ekstradisi melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham," kata Yasonna.

    Kemudian, Duta Besar RI untuk Republik Serbia dan Montenegro, M Chandra Widya Yudha, mengirimkan surat permintaan ekstradisi. Pemerintah Republik Serbia mengabulkan permintaan Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehakiman Serbia Nomor 713-01-02436/ 2019-08 tertanggal 6 April 2020.

    Maria dijadwalkan tiba di Tanah Air Kamis, 9 Juli 2020. Setelah 17 tahun buron, Maria akan menghadapi proses hukum atas dugaan pelanggaran Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup.

    (REN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id