Dandhy Laksono Dicecar 14 Pertanyaan

    Siti Yona Hukmana - 27 September 2019 09:55 WIB
    Dandhy Laksono Dicecar 14 Pertanyaan
    Majelis Pertimbangan AJI Indonesia, Dandhy Dwi Laksono usai diperiksa Polda Metro Jaya, Jumat, 27 September 2019. Foto: Medcom.id/ Siti yona Hukmana
    Jakarta: Majelis Pertimbangan AJI Indonesia, Dandhy Dwi Laksono, selesai diperiksa penyidik Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya. Ia dicecar 14 pertanyaan seputar kasus yang disangkakan kepadanya. 

    "Tadi ada sekitar 14 pertanyaan, sekitar 45 turunan pertanyaan yang diajukan kepada Dandhy," kata Kuasa Hukumnya, Alghiffari Aqsa di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, 27 September 2019. 

    Alghif mengatakan materi pertanyaannya berkaitan dengan cuitan Dandhy di Twitter yang menuliskan komentar tentang kerusuhan di Wamena, Papua pada 23 September 2019. Dandhy disangkakan melakukan tindak pidana ujaran kebencian terhadap individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). 

    Alghif menilai pasal yang disangkakan kepada kliennya tidak relevan. Menurut dia, cuitan itu merupakan bagian kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat tentang peristiwa yang terjadi di Wamena, Papua.

    "Maka itu, menurut kami pasal yang dikenakan tidak berdasar, karena SARA-nya dimana? tidak memenuhi unsur juga," ujarnya. 

    Meski begitu, Dandhy akan kooperatif menjalani setiap pemeriksaan. Ia penasaran dengan kasus yang menimpanya dan ingin tahu proses selanjutnya. 

    "Saya ingin tahu sebenarnya apa yang disangkakan, sehingga saya mengikuti proses verbalnya. Benar-benar ingin tahu masalah yang disangkakan dan substansi masalahnya," kata Dandhy.

    Dandhy ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penyebaran ujaran kebencian sejak Kamis, 26 September 2019 pukul 23.00 WIB. Ia ditangkap di rumahnya di Jalan Sangata 2 Blok i-2 Nomor 16, Jatiwaringin Asri, Pondokgede, Bekasi. Namun, polisi memulangkan Dandhy tanpa ditahan.

    "Hari ini beliau dipulangkan, tidak ditahan, kita menunggu proses selanjutnya dari kepolisian," tutur Alghif. 

    Dandhy terkejut atas penangkapannya. Kepolisian datang tiba-tiba dan menyodorkan sebuah cuitan di Twitter. Menurut dia, seharusnya polisi terlebih dahulu mengirimkan surat panggilan.

    Kuasa Hukum Dandhy memprotes cara penangkapan yang dilakukan polisi. Polisi, kata Alghif, menangkap secara tiba-tiba dengan alasan karena kasus yang menjerat Dandhy adalah SARA dan bisa membuat keonaran.

    "Kami protes keras, karena seharusnya dia dipanggil secara patut dulu. Ketika dia tidak kooperatif, satu, dua, tiga panggilan, baru bisa ditangkap, menurut kami," tegas Alghif.

    Dandhy disangkakan Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45 A ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana.

    (WHS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id