Masa Penahanan Eks Bos Lippo Cikarang Diperpanjang

    M Sholahadhin Azhar - 06 Desember 2019 13:54 WIB
    Masa Penahanan Eks Bos Lippo Cikarang Diperpanjang
    Tersangka suap Izin Peruntukan dan Penggunaan Tanah (IPPT) proyek Meikarta, Bartholomeus Toto. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan eks Presiden Direktur Lippo Cikarang, Bartholomeus Toto. Tersangka kasus suap proyek Meikarta ini masih akan mendekam di rumah tahanan KPK selama 40 hari ke depan.

    "Penahanan diperpanjang terhitung sejak 10 Desember 2019," kata juru bicara KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Jumat, 6 Desember 2019.

    Ditemui usai diperiksa, Bartholomeus Toto menyampaikan mengenai upaya praperadilan yang tengah ditempuh. Toto ingin menguji kesaksian Edi Dwi Soesianto, tentang suap Rp10,5 miliar yang diberikan Toto ke Bupati Bekasi ketika itu, Neneng Hassanah Yasin.

    Berkas gugatan dari KPK sudah diterima Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Jaksel) pada 27 November 2019. Gugatan diregistrasi dengan nomor perkara 151/Pid.Pra/2019/PN Jaksel.

    "Kalau itu (praperadilan) kuasa hukum saya kalau enggak salah tanggal 16 Desember 2019 (sidang perdana praperadilan)," kata Toto.

    Toto merasa difitnah Kepala Divisi Land and Ackuisition PT Lippo Group Edi Dwi Soesianto. Dalam persidangan, Edi menyebut Toto menerima uang Rp10,5 miliar dari sekretaris Toto, Melda Peni Lestari.

    KPK telah menetapkan Toto sebagai tersangka izin proyek pembangunan Meikarta sejak 29 Juli 2019. Toto memang sejak awal membantah memberikan Rp10,5 miliar untuk izin pembangunan kawasan Meikarta, kepada Bupati Bekasi ketika itu, Neneng Hassanah Yasin.

    KPK telah menetapkan 11 tersangka dalam kasus dugan suap pada proyek Meikarta. KPK juga menetapkan tersangka baru dalam kasus ini, yaitu Sekretaris Daerah Jawa Barat, Iwa Karniwa.

    Iwa diduga menerima Rp900 juta untuk memuluskan Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi tahun anggaran 2017. Sedangkan, Toto merupakan pihak yang ditugaskan Lippo Karawaci untuk 'menyelesaikan' izin pembangunan Meikarta dari Neneng Hasanah.

    Toto disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) dan Pasal 55 ayat (1) ke-1.

    Sedangkan Iwa disangkakan melanggar Pasal ‎12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.





    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id