Pansel KPK Incar Ahli Pidana Pencucian Uang

    Juven Martua Sitompul - 12 Juni 2019 19:12 WIB
    Pansel KPK Incar Ahli Pidana Pencucian Uang
    Pertemuan pimpinan KPK dengan panitia seleksi pimpinan KPK. (Foto: Medcom.id/Juven Sitompul)
    Jakarta: Panitia seleksi (Pansel) calon pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jilid V  mencari sosok berpengalaman dan berkompeten untuk menggantikan Agus Rahardjo cs. Salah satu kualifikasinya ahli tindak pidana pencucian uang (TPPU).

    "Jadi kami cari yang (pemahaman) TPPU-nya lebih mau," kata Ketua Pansel Capim KPK Yenti Ganarsih di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 13 Juni 2019.
    Menurut Yenti, kualifikasi ahli pencucian uang ini menjadi fokus pansel. Lantaran penerapan jerat Pasal TPPU di era Agus Rahardjo cs dianggap belum maksimal. 

    "Jadi kita evaluasi apa yang termasuk juga kita dengarkan dari luar ya, bukan dari dalam saja, antara lain maaf TPPU-nya masih lemah kan itu pasti," kata dia.

    Yenti menilai penerapan jerat Pasal TPPU penting untuk memulihkan kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi. Terlebih, KPK tengah menangani sejumlah kasus yang merugikan keuangan negara hingga triliunan rupiah.

    "Asset tracing itu lebih kan. Sekarang misalnya BLBI baru akan asset tracing untuk TPPU. Nah kita akan cari seperti itu," ujarnya.

    Hari ini pansel capim KPK yang digawangi Yenti mendatangi Gedung KPK. Pansel meminta wejangan dan saran dari pimpinan KPK yang masih menjabat saat ini. 

    Yenti mengakui dalam pertemuan itu pihaknya meminta masukan mengenai komposisi Komisioner KPK saat ini. Salah satu yang menjadi pertimbangan pansel adalah belum adanya komisioner KPK dari unsur kejaksaan.

    "Yang jelas, UU mengatakan komisioner terdiri dari unsur pemerintah dan unsur masyarakat. Jadi harus dua itu, tidak mungkin tidak ada unsur pemerintah," kata Yenti.

    Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengakui penerapan TPPU terhadap tersangka korupsi saat ini belum maksimal. Dia beralasan pihaknya terkendala dengan minimnya ahli hukum TPPU.

    "Dari awal sebenarnya ketika penyelidikan bila perlu kita sudah mulai bahas TPPU-nya. Sehingga ketika penyidikan sudah matang, itu learning organization," kata Saut.



    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id