comscore

Polisi Buru Warga Nigeria Terkait Peretasan Surel 8 Perusahaan Asing

Siti Yona Hukmana - 04 Oktober 2021 10:02 WIB
Polisi Buru Warga Nigeria Terkait Peretasan Surel 8 Perusahaan Asing
Ilustrasi. Medcom.id
Jakarta: Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri terus mengusut kasus penipuan dengan skema Bussiness E-mail Compromise (BEC) atau peretasan surel delapan perusahaan di luar negeri. Polisi mengantongi keterlibatan warga negara asing (WNA).

"Ada satu sasaran kita warga negara Nigeria inisial D," kata Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Asep Edi Suheri saat dikonfirmasi, Senin, 4 Oktober 2021.
Penyidik Dittipidsiber Polri sudah menangkap empat warga Indonesia yang meretas delapan surel perusahaan asing itu. Pelaku yang ditangkap ialah Citra Retlani, 25, warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan; Niken Tri Suciati, 38, Warga Sukmajaya, Depok; Yana Hariyana, 24, warga Cilandak, Jakarta Selatan; dan Sarah Arista alias Friska Prsilia, warga Matraman, Menteng, Jakarta Pusat.

Sebanyak delapan perusahaan asing yang menjadi korban peretasan, yakni Simwon Inc, Korea Selatan; dan White Wood House Food Co, Taiwan. Perusahaan internasional lainnya yang diretas berada di Jepang, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Argentina, Singapura dan Belgia.

Asep mengatakan Simwon Inc adalah perusahaan yang bergerak di bidang elektronik. Sedangkan, White Wood House Food Co bergerak di bidang makanan dan minuman.

"Jadi mereka (Simwon dan White Wood) ada satu kerja sama join bisnis dengan perusahaan di luar negaranya, yaitu Amerika dan China. Para pelaku melakukan komunikasi (dengan Simwon dan White Wood) yang seolah-olah mitra bisnis," ujar Asep.

Pengungkapan ini berawal adanya laporan polisi dari White Wood House Food Co pada 6 Januari 2021 dan Simwoon Inc pada 9 Maret 2021. Perusahaan asing asal Taiwan merugi Rp2,8 miliar dan Korea Selatan Rp82 miliar.

Baca: 4 Warga Indonesia Retas Surel 8 Perusahaan Asing

Sindikat ini beroperasi sejak 2020. Mereka melakukan penipuan skema BEC dengan menyamar menjadi perusahaan mitra dagang korban dengan tujuan mendapatkan dana.

Dalam melancarkan aksinya, pelaku menggunakan identitas palsu untuk membuat sejumlah dokumen. Seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Systemically Important Bank (SIB), Surat Izin Lokasi, dan akta notaris.

Dokumen itu untuk membuat perusahaan palsu yang namanya dimiripkan dengan perusahaan mitra dagang korban. Mereka menambahkan karakter s pada alamat e-mail palsu untuk menipu perusahaan White Wood House Food Co, yakni mmontufar@naturipesfarms yang sejatinya, mmontufar@naturipefarms.

"Dokumen perusahaan palsu tersebut juga dijadikan dasar dalam pembuatan rekening bank jenis giro, yang berada di bawah penguasaan masing-masing tersangka, yang terdaftar sebagai direktur perusahaan palsu," ungkap Asep.  

Sementara itu, sindikat ini menggunakan e-mail palsu fang.xiaoyan@popen--sh untuk menipu perusahaan Simwoon Inc. Surel asli perusahaan tersebut adalah fang.xiaoyan@popen-sh.

"Sindikat kemudian mengirimkan email palsu yang berisi pemberitahuan pengalihan rekening, dengan rekening milik sindikat sebagai rekening yang dituju," kata Asep.

Tersangka dijerat Pasal 45A ayat (1) Jo Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Beleid itu berisi terkait berita bohong yang mengakibatkan kerugian melalui transaksi elektronik dengan ancaman hukuman enam tahun penjara denda Rp1 miliar.

Lalu, Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Dengan hukuman paling tinggi Rp20 tahun penjara dan denda Rp10 miliar.

Pasal 82, Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Tindak Pidana Transfer Dana, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp5 miliar. Kemudian, Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id