comscore

Terbukti Terima Suap, ASN Tajir Rohadi Divonis 3,5 Tahun Bui

Fachri Audhia Hafiez - 14 Juli 2021 16:14 WIB
Terbukti Terima Suap, ASN Tajir Rohadi Divonis 3,5 Tahun Bui
ilustrasi/medcom.id
Jakarta: Mantan panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), Rohadi, divonis tiga tahun enam bulan penjara serta denda Rp300 juta subsider empat bulan kurungan. Aparatur sipil negara (ASN) tajir itu terbukti menerima suap hingga tindak pidana pencucian uang (TPPU).

"Mengadili, menyatakan terdakwa Rohadi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan beberapa tindak pidana korupsi," kata Ketua Majelis Hakim Albertus Usada di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Juli 2021.
Majelis hakim mempertimbangkan hal-hal memberatkan dan meringankan hukuman. Hal memberatkan, Rohadi tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Sedangkan hal meringankan, Rohadi bersikap kooperatif dalam menjalani proses peradilan. Dia berterus terang memberikan keterangan di persidangan.

"Terdakwa menyatakan mengaku bersalah dan terdakwa menjadi tulang punggung keluarga," ujar Hakim Albertus.

Baca: KPK Ajukan Kasasi Perkara Nurhadi

Rohadi dianggap terbukti menerima suap sebesar Rp1,21 miliar dari anggota DPRD Papua Barat periode 2009-2014 Robert Melianus Nauw dan Jimmy Demianus Ijie terkait pengaturan perkara. Suap diberikan agar Robert dan Jimmy dapat diputus bebas di tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA). 

Uang diberikan dalam dua tahap, Rp900 juta dan Rp310 juta. Uang diserahkan atas perintah Ketua Pengadilan Tinggi Jayapura, Sudiwardono, dan hakim ad hoc pada Pengadilan Tinggi Jayapura, Julius C Manupapami.

Keduanya merupakan perantara yang memberi tahu Robert dan Jimmy dapat membantu perkaranya. Sudiwardono dan Julius kenal dengan orang dalam MA yang diketahui merupakan Rohadi.

Rohadi juga terbukti menerima hadiah dan janji sebesar Rp110 juta dari Jeffri Darmawan. Duit itu diduga diberikan Jeffri melalui perantara Rudi Indawan. 

Rohadi juga terbukti menerima uang haram untuk memenangkan perkara dari Yanto Pranoto melalui Rudi Indawan Rp235 juta. Lalu, dia diduga menerima uang dari Ali Darmadi Rp1,6 miliar, dan dari mantan anggota DPR Sareh Wiyono Rp1,5 miliar.

Rohadi juga terbukti menerima gratifikasi senilai Rp11,5 miliar. Duit itu dikumpulkan Rohadi dari banyak orang mulai dari 2005 sampai 2016.

Terakhir, Rohadi terbukti melakukan TPPU. Rohadi membeli 41 tahan dan bangunan, serta 19 mobil mewah untuk menyamarkan kekayaannya.

Rohadi menukarkan uang asing 87 kali sejak Januari 2011-Juni 2016. Rohadi juga diduga melakukan investasi 32 kali di RSU Reysa dengan nilai Rp100 juta-Rp300 juta.

"Majelis menyimpulkan unsur yang menempatkan, meneransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang asing, membawa ke luar negeri, atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan telah terpenuhi menurut hukum," ucap Hakim Albertus. 

Rohadi terbukti melanggar Pasal 11 dan Pasal 12 B ayat 1 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Serta Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

(NUR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id