Pejabat Daerah Diduga Terlibat dalam Penyelewengan Dana Bansos

    Siti Yona Hukmana - 30 Juli 2020 19:11 WIB
    Pejabat Daerah Diduga Terlibat dalam Penyelewengan Dana Bansos
    Ilustrasi bansos. Antara/Oky Lukmansyah
    Jakarta: Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipikor) Bareskrim Polri menemukan 102 kasus penyelewengan dana bantuan sosial penanganan covid-19 di Indonesia. Pejabat daerah diduga terlibat dalam penyelewengan tersebut.

    "Hasil identifikasi data terduga pelaku yang dihimpun, ada pelaku seorang Wali Kota, Kepala Dinas Sosial bekerja sama dengan penyedia, Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat, pejabat Bulog, camat, kepala/perangkat desa, dan ketua RT," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 30 Juli 2020.

    Awi menuturkan ada beberapa motif terduga pelaku melakukan penyelewengan dana bansos. Yakni pemotongan dana dan pembagian tidak merata, pemotongan dana sengaja dilakukan perangkat desa dengan maksud asas keadilan bagi mereka yang tidak menerima.

    Motif lainnya adalah pemotongan dana untuk uang lelah, pengurangan timbangan paket sembako serta tidak ada transparansi kepada masyarakat terkait sistem pembagian dan jumlah dana yang diterima.

    Baca: Beragam Modus Penyelewengan Bansos Covid-19

    Awi mengatakan prosedur penanganan dana bantuan sosial terdapat dalam Pasal 385 ayat (1) hingga ayat (5) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Isinya adalah masyarakat dapat menyampaikan pengaduan atas dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh aparatur sipil negara (ASN) di instansi daerah kepada Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) dan/atau aparat penegak hukum.

    Para terduga pelaku bisa dijerat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bila ada unsur kerugian negara, juga dapat dikenakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3.

    Jika ada unsur penyuapan dapat dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a dan Pasal 5 ayat (2), Pasal 6 ayat (1) huruf a dan b, Pasal 6 ayat (2), Pasal 11, Pasal 12 huruf a dan b, Pasal 12 huruf c dan d, dan Pasal 13.

    Jika ada penggelapan dalam jabatan bisa disangkakan Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 huruf a, huruf b dan huruf c. Ranah pemerasan dapat dijerat Pasal 12 huruf e, huruf f dan huruf g.

    Indikasi kecurangan dikenakan Pasal 7 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d, Pasal 7 ayat (2), Pasal 12 huruf h. Untuk unsur benturan kepentingan dalam pengadaan dapat dikenakan Pasal 12 huruf i. Sementara itu, jika ada gratifikasi bisa disangkakan Pasal 12b juncto Pasal 12c.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id