Eks Dirut PT INTI Dituntut 3 Tahun Bui

    Fachri Audhia Hafiez - 17 Februari 2020 15:57 WIB
    Eks Dirut PT INTI Dituntut 3 Tahun Bui
    Ilustrasi. Dok MI
    Jakarta: Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut mantan Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Darman Mappangara dihukum tiga tahun penjara. Jaksa juga menuntut Darman didenda Rp200 juta subsider lima bulan kurungan.

    "Menyatakan terdakwa Darman Mappangara terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata jaksa KPK Haerudin di Pengadilan Tindak Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 17 Februari 2020.

    Darman dinilai terbukti menyuap Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II Andra Yastrialsyah Agussalam senilai USD71 ribu dan SGD96.700. Suap dilakukan untuk mempermulus kontrak kerja PT INTI terkait proyek Baggage Handling System (BHS) di PT Angkasa Pura Propertindo (PT APP).

    Suap dilakukan pertama kali pada 26 Juli 2019. Darman memerintahkan orang kepercayaannya, Andi Taswin Nur untuk menyerahkan USD53 ribu kepada Andra. Kemudian pada 27 Juli 2019, Taswin diperintahkan untuk menyerahkan USD18 ribu dan 31 Juli 2019 sebesar SGD 96.700.

    Perbuatan Darman dinilai terbukti melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP Pidana.

    Eks Dirut PT INTI Dituntut 3 Tahun Bui
    Sidang tuntutan terhadap Direktur PT INTI Darman di Pengadilan Tipikor Jakarta. Medcom/Fachrie Audhia Hafiez

    Jaksa menilai hal memberatkan tuntutan yakni selaku direksi pada BUMN Darman telah mengabaikan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Dia juga dinilai menyalahgunakan wewenang yang diberikan untuk melakukan kejahatan. Sedangkan, hal yang meringankan untuk Darman lantaran belum pernah tersangkut masalah hukum sebelumnya.

    "Terdakwa terbukti merupakan pelaku yang aktif dan melibatkan orang lain dalam melakukan kejahatan. Terdakwa berusaha menutupi kejahatannya seolah-olah sebagai pembayaran utang piutang, dan terdakwa tidak mengakui dan menyesali perbuatannya," beber Haerudin.

    Darman mengajukan pembelaan atau pleidoi atas tuntutan tersebut. Majelis hakim menjadwalkan pembacaan pledoi pada Senin, 24 Februari 2020.





    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id