Emirsyah Pernah Punya Firasat Bakal Dipanggil KPK

    Fachri Audhia Hafiez - 06 Februari 2020 19:49 WIB
    Emirsyah Pernah Punya Firasat Bakal Dipanggil KPK
    Eks Direktur Utama PT Garuda Indonesia Persero, Emirsyah Satar. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Eks Direktur Utama PT Garuda Indonesia Persero, Emirsyah Satar disebut pernah punya firasat bakal dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal itu diungkapkannya saat proses pengadaan pesawat Sub 100-seater di lingkungan perusahaan pelat merah itu.

    Tim dibentuk untuk pengadaan pesawat Sub 100-seater. Salah satu anggota timnya ialah mantan Direktur Produksi PT Garuda Indonesia Persero, Puji Nur Handayani, yang bersaksi dalam persidangan Emirsyah.

    Terkait kebutuhan pesawat tersebut, terdapat dua pabrikan yang dianggap sesuai yaitu Bombardier dari Canada untuk tipe CRJ1000 dan Embraer dari Brazil untuk tipe E-190. Tim mengusulkan pengadaan dari pabrikan Embraer kepada direksi. Namun, direksi mengevaluasi usulan itu.

    "Direksi sepakat menyetujui dan menugaskan tim untuk melengkapi data dan informasi yang detail. Termasuk justifikasinya yang mendukung dan membuktikan kelemahan dan keunggulan dari masing-masing vendor," kata hakim anggota Anwar saat membacakan berita acara pemeriksaan (BAP), Puji, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Februari 2020.

    Masih dalam BAP, Puji menyebut Emirsyah kurang sepakat dengan usulan tim. Hingga terucap kata-kata bakal dipanggil KPK.

    "Seingat saya waktu itu Emirsyah Satar menyampaikan pendapat dengan kalimat yang pada intinya, kok kalian memberikan usulan pesawat yang lebih mahal kepada direksi? Bisa diperkarakan ini, saya bisa paling pertama yang dipanggil KPK," ujar Puji dalam BAP.

    Puji mengaku hal itu terjadi dalam rapat antara tim dan direksi membahas pengadaan pesawat pada 2011. Ia bilang ucapan itu biasa terjadi karena dinamika rapat. Puji menambahkan, terkait Emirsyah yang heran dengan usulan itu, tim kembali mengkaji pabrikan Embraer itu.

    "Pak Emirsyah menyampaikan kok kita tahu semua secara data aktual harga pesawat Embraer lebih mahal dibandingkan CRJ (pabrikan Bombardier), tapi mengapa itu yang diusulkan tim. Akhirnya kami disuruh memperdalam lagi kajian dengan data-data yang tadi asumsi-asumsi," ujar Puji.

    Hakim Anwar kembali mengajukan pertanyaan mempertegas mana pada akhirnya pabrikan yang ditunjuk perseroan. "Yang murah Bombardier," ucap Puji.

    Emirsyah didakwa menerima suap Rp46,3 miliar. Suap berasal dari pihak Rolls-Royce Plc, Airbus, Avions de Transport Regional (ATR) melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa milik eks Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo, dan Bombardier Kanada. Suap diberikan karena Emirsyah selaku Dirut Garuda memilih pesawat dari tiga pabrikan dan mesin pesawat dari Rolls Royce.

    Emirsyah didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

    Sementara Soetikno didakwa memberikan uang kepada Emirsyah sebesar Rp5,859 miliar, USD884.200 (Rp12,35 miliar), EUR1.020.975 (Rp15,8 miliar), dan SGD1.189.208 (Rp12,2 miliar). Fulus itu diberikan agar Emirsyah membantu kegiatan dan pengadaan sejumlah barang oleh Garuda Indonesia.

    Soetikno didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id