Hakim Minta Uang Sitaan Lukman Dikembalikan

    Fachri Audhia Hafiez - 21 Januari 2020 00:13 WIB
    Hakim Minta Uang Sitaan Lukman  Dikembalikan
    Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: ANT/Sigid Kurniawan
    Jakarta: Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta meminta uang hasil sitaan dari ruang kerja eks Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dikembalikan. Sebab, uang tersebut tidak berkaitan dengan perkara korupsi yang menjerat mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy alias Romy.

    "Majelis mempertimbangkan bahwa selama proses pemeriksaan di persidangan tidak ada fakta yang menerangkan uang tersebut ada hubungannya dengan perbuatan terdakwa," kata anggota majelis hakim Muhammad Idris Muhammad Amin di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 20 Januari 2020.

    Uang itu senilai USD30 ribu, terdiri dari pecahan USD100 sebanyak 300 lembar. Uang itu disimpan ke dalam tas tangan warna hitam dengan emboss Toyota.

    Ada pula satu buah amplop coklat dengan tulisan 'Sapa Penyuluh Agama Kanwil Kemenang Prov DKI JKT' di dalamnya terdapat uang Rp70 juta. Fulus terdiri dari pecahan Rp100 ribu sebanyak 688 lembar dan Rp50 ribu sebanyak 24 lembar.

    Kemudian satu buah amplop coklat dengan tulisan 'DKI' yang di dalamnya terdapat uang Rp30 juta. Terdiri dari uang pecahan Rp100 ribu sebanyak 300 lembar.

    Satu buah amplop coklat juga ditemukan yang didalamnya terdapat uang Rp59,7 juta yang terdiri dari uang pecahan Rp100 ribu sebanyak 597 lembar. Terakhir, satu buah amplop coklat yang di dalamnya terdapat uang Rp30 juta. Terdiri dari uang pecahan Rp100 ribu sebanyak 300 lembar.

    Sebelumnya, jaksa penuntut umum KPK meminta agar barang-barang yang ditemukan KPK pada 18 Maret 2019 itu dirampas negara. Sebab, dalam persidangan Lukman tak bisa menjelaskan asal-usul menyampaikan bukti yang sah mengenai penerimaan uang yang ditemukan itu.

    Romy dihukum dua tahun penjara serta denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan. Dia terbukti menerima Rp255 juta dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur Haris Hasanuddin. Dalam perkara ini, turut serta mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima suap Rp70 juta.

    Anggota DPR periode 2014-2019 itu dan Lukman disebut terbukti melakukan intervensi sehingga menjadikan Haris lolos dan dilantik menjadi Kakanwil Kemenag Jawa Timur. Keduanya menyadari tentang perbuatan rasuah namun tetap dilakukan.

    Romy juga terbukti menerima Rp50 juta yang berasal dari Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Muafaq Wirahadi. Kemudian sepupu Romy, Abdul Wahab turut menerima sebanyak Rp41,4 juta.

    Romy terbukti melanggar dakwaan pertama alternatif kedua dalam perkara suap dari Haris. Romy melanggar Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

    Kemudian Romy juga terbukti melanggar Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP pada dakwaan kedua alternatif kedua, yakni menerima suap dari Muafaq.



    (NUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id