Firli Tegaskan KPK Tak Diamkan Nurhadi

    Candra Yuri Nuralam - 26 Februari 2020 15:53 WIB
    Firli Tegaskan KPK Tak Diamkan Nurhadi
    Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengaskan pencarian pada mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi terus dilakukan. Lembaga Antirasuah juga mengejar dua tersangka lain, Hiendra Soenjoto dan Rezky. 

    "Termasuk menggeledah sejumlah tempat," kata Firli di Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020.

    Firli mengatakan tim satgas terus mencari petunjuk keberadaan Nurhadi dari setiap penggeledahan. Laporan masyarakat juga menjadi petunjuk tim. 

    "Kami juga menelusuri sejumlah informasi dan isu keberadaannya yang dikatakan sejumlah pihak," ujar Firli.

    Korps Antirasuah juga terus berkoordinasi dengan Polri. Firli meminta masyarakat sabar dan memberi waktu kepada tim. 

    KPK menggeledah rumah mertua Nurhadi di Tulungagung, Jawa Timur. Penggeledahan untuk mengendus keberadaan Nurhadi.

    "Kegiatan tersebut masih dalam rangkaian pencarian para DPO tersangka NH (Nurhadi) dan kawan-kawan. Info yang kami terima saat ini, kegiatan tersebut masih berlangsung,' kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Februari 2020.

    (Baca: KPK Memaksimalkan Pencarian Nurhadi Cs)

    Ali enggan membeberkan petunjuk yang sudah didapat petugas untuk memburu Nurhadi cs. Dia menyebut penggeledahan dibantu pihak kepolisian.

    KPK juga menggeledah sejumlah tempat di Surabaya. Penggeledahan merupakan bagian dari pencarian bukti kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung Tahun 2011-2016. 

    Ali menyebut salah satu yang digeledah merupakan Kantor Hukum Rahmat Santoso and Partner. Kantor itu milik adik istri Nurhadi, Tin Zuraida.

    Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto lewat menantunya, Rezky. Suap dimaksudkan untuk memenangkan Hiendra dalam perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Selain itu, Nurhadi juga diduga menerima sembilan lembar cek dari Hiendra terkait Peninjauan Kembali (PK) perkara di MA.

    Nurhadi diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014 sampai Agustus 2016. Gratifikasi diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA, jugan untuk Permohonan Perwalian.

    Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Sementara, Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (Baca: KPK Kejar Bukti Kasus Nurhadi hingga Surabaya)



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id