Tidak Bersahabat dengan Rolls-Royce, Direktur Garuda Dicopot Emirsyah

    Fachri Audhia Hafiez - 09 Januari 2020 15:07 WIB
    Tidak Bersahabat dengan Rolls-Royce, Direktur Garuda Dicopot Emirsyah
    Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Mantan Direktur Teknik dan IT PT Garuda Indonesia, Soenarko Kuncoro, mengaku diberhentikan eks Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Dia dicopot saat Rolls-Royce mengajukan proposal paket perawatan mesin.

    "Alasannya (pencopotan) waktu rapat umum pemegang saham (RUPS) saya dianggap enggak perform sebagai direksi dalam hal menjaga on time performance secara keseluruhan," kata Soenarko di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020.

    Kala itu, Rolls-Royce menawarkan mekanisme total care program (TCP), program perawatan mesin tanpa melibatkan pihak ketiga. PT Garuda Indonesia sedianya menggunakan mekanisme perawatan time and material based (TMB) karena kesulitan keuangan.

    Harga yang ditawarkan Rolls-Royce tidak sesuai denga keinginan PT Garuda Indonesia. Soenarko menjelaskan proses negosiasi terus berlanjut dengan melaporkan ke jajaran direksi, termasuk kepada Emirsyah.

    "Kita selalu rapat-rapat evaluasi ini kita sampaikan. Bukan hanya direktur utama tapi juga direksi lain," ujar Soenarko.

    Dalam surat dakwaan, posisi Soenarko digantikan Hadinoto Soedigno. Dia dilengserkan karena dianggap tidak bersahabat dengan Rolls-Royce.

    Pergantian direksi ini membuat Rolls-Royce senang. Hal ini termuat dalam laporan berjudul Indonesia Report-Period pada 5 November 2007 oleh Rolls-Royce Regional Director Indonesia Mike F Gray.

    Emirsyah didakwa menerima suap Rp46,3 miliar dari Rolls-Royce Plc, Airbus, Avions de Transport Regional (ATR), melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo dan Bombardier Kanada. Suap diberikan karena Emirsyah memilih pesawat dari tiga pabrikan dan mesin pesawat dari Rolls Royce.

    Emirsyah didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

    Sementara itu, Soetikno didakwa memberikan uang kepada Emirsyah Rp5,859 miliar, USD884.200 (Rp12,35 miliar), EUR1.020.975 (Rp15,8 miliar), dan SGD1.189.208 (Rp12,2 miliar). Uang pelicin itu ditujukan agar Emirsyah membantu kegiatan dan pengadaan sejumlah barang Garuda Indonesia.

    Soetikno didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU  Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id