Produksi Ganja Sintetis Mencapai 30 Kg

    MetroTV - 10 Februari 2020 12:15 WIB
    Produksi Ganja Sintetis Mencapai 30 Kg
    Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur dan Polrestabes Surabaya menggerebek tempat pembuatan ganja sintetis di apartemen High Point di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 7 Februari 2020. ANTARA FOTO/Didik Suhartono
    Jakarta: Wakil Direktur Raserse Narkoba Polda Metro Jaya AKBP Sapta Maulana Marpaung menyebut pabrik ganja sintetis atau tembakau gorila yang terungkap di kawasan Surabaya, Jawa Timur, sudah beroperasi selama enam bulan. Dalam jangka waktu tersebut, pelaku memproduksi ganja sintetis mencapai 30 kilogram (kg).

    "Enam bulan terakhir ini memang cukup besar produksinya kalau kita hitung ya," kata Sapta dalam acara Primetime Metro TV, Jakarta, Senin, 10 Februari 2020.

    Sapta mengungkapkan pelaku sudah memetakan daerah peredaran ganja sintetis. Daerah yang potensial bagi mereka ialah Jawa dan Bali.

    Sementara itu, market ganja sintetis ialah kalangan remaja. "Mereka menjual barang tersebut per 25 gram itu Rp400 ribu," ucap dia.

    Produksi Ganja Sintetis Mencapai 30 Kg
    Ilustrasi ganja sintetis (tembakau gorilla). Foto: Arnas Padda/Antara Foto

    Tembakau Gayo

    Sapta mengungkapkan bahan dasar dari ganja sintetis ini ialah tembakau gayo yang dicampur zat kimia. Tembakau gayo ini hanya ditanam di kawasan Cianjur, Jawa Barat.

    "Mungkin karena daerahnya yang memang khusus bisa memproduksi tembakau gayo, dan ini memang bentuknya beda dengan tembakau biasa," ucap dia.

    Tembakau tersebut, terang dia, sama dengan tembakau biasanya dan banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, bentuknya berbeda sehingga hanya tembakau gayo yang bisa digunakan untuk ganja sintetis. Tembakau gayo dicampur beberapa zat kimia untuk menimbulkan efek halusinasi, seperti Alkohol hingga Arsen.

    Ketua Umum GANNAS Nyoman Adi Feri menegaskan ganja sintetis sangat berbahaya untuk manusia. Ada banyak zat kimia yang dicampurkan ke tembakau gayo untuk menghasilkan ganja sintetis.

    "Dampaknya (dari ganja sintetis) membuat meninggal, membuat mual, membuat halusinasi," ujar dia.

    Menurut Feri, tingkat halusinasi ganja sintetis bahkan lebih besar ketimbang ganja biasa. Hal itu tak terlepas dari kandungan zat yang ada di dalam tembakau tersebut.

    "Karena ganja biasa setelah dihisap tujuh kali step by step baru efeknya kerasa. Kalau sintetik ini dia cepat sekali efeknya dan dia sangat-sangat bahaya sekali," pungkas dia.

    Polisi sebelumnya menetapkan 15 tersangka dalam kasus dugaan peredaran ganja sintetis. Satu tersangka merupakan narapidana berinisial L di salah satu lembaga pemasyarakatan (lapas) di Jawa Tengah.
     
    Sapta menjelaskan kasus ini terungkap setelah polisi menangkap satu orang di kawasan Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa ganja sintetis yang diketahui dibeli dari media sosial.

    Penyelidikan meluas hingga ke Surabaya, Jawa Timur, setelah petugas mendapat keterangan dari dua penjual ganja sintetis tersebut. Pada Kamis, 6 Februari 2020, petugas menggerebek salah satu apartemen di Surabaya dan mendapati empat tersangka beserta tempat membuat ganja sintetis tersebut.
     
    Para tersangka dijerat dengan Pasal 114 dan Pasal 112 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara dan denda Rp10 miliar.





    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id