Efek Hukuman Mati Koruptor Dinilai Ambigu

    Candra Yuri Nuralam - 21 Februari 2021 11:11 WIB
    Efek Hukuman Mati Koruptor Dinilai Ambigu
    Mantan Ketua KPK Agus Rahardjo dalam diskusi Chrosscheck by Medcom.id dengan tema Saat Kapolsek Yuni Pesta Sabu & Eks Menteri Korupsi.



    Jakarta: Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mengatakan hukuman mati belum tentu memberikan efek jera untuk menghentikan rasuah di Indonesia. Penerapan hukuman mati masih ambigu membuat efek jera.

    "Masih ambigu, penerapan hukuman mati efek jeranya patut dipertanyakan," kata Agus dalam diskusi Chrosscheck by Medcom.id dengan tema Saat Kapolsek Yuni Pesta Sabu & Eks Menteri Korupsi, Minggu, 21 Februari 2021.




    Mengutip Corruption Perception Index (CPI) tahun 2020, Agus mengatakan ada tiga negara dengan nilai penanganan korupsi bagus dan menerapkan hukuman mati. Tiga negara itu ialah Singapura, Jepang, dan Uni Emirat Arab (UEA)

    "Tiga negara itu ada di posisi 22 besar (berdasarkan CPI)," ujar Agus.

    Namun, penerapan hukuman mati di tiga negara itu bukan untuk pelaku korupsi. Ketiga negara itu hanya mengeksekusi terpidana yang melakukan pembunuhan.

    "Singapura pembunuhan, terkait dengan narkoba, dan penggunaan senjata api," tutur Agus.

    Atas dasar itulah menghukum mati pelaku koruptor dinilai ambigu. Masalahnya, kata Agus, negara yang CPI-nya tinggi malah tidak menghukum mati terpidana kasus korupsi.

    "Mereka sama sekali tidak menerapkan hukuman mati untuk koruptor, dan mereka ranking satu sampai 22 (CPI)," papar Agus.

    Baca: Eks Ketua KPK Sebut Hanya Tuhan yang Berhak Cabut Nyawa Koruptor

    Di sisi lain, kata Agus, Brazil sebagai negara yang tidak menerapkan hukuman mati mendapatkan CPI yang buruk. Bahkan, CPI Brazil di bawah Indonesia.

    "Yang menetapkan hukuman mati ternyata prestasinya bagus, tapi di satu sisi yang tidak menerapkan hukuman mati jelek persepsinya," tutur Agus.

    Dia menilai hukuman mati untuk koruptor belum tentu memberikan efek jera untuk menghentikan tindakan korupsi di Indonesia. Agus lebih setuju perbaikan sistem pemerintahan untuk menghapus korupsi. Pasalnya, kata dia, korupsi di Indonesia berjalan karena sistem memungkinkan rasuah terjadi.

    "Bagaimana mewujudkan bangsa ini jujur tidak dusta, menyampaikan, cerdas membuat kebijakan, dan kebaikan orang banyak," ucap Agus.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id