Juliari Jadikan Bawahan Pengepul Commitment Fee Rp10 Ribu per Paket Bansos

    Fachri Audhia Hafiez - 24 Februari 2021 18:53 WIB
    Juliari Jadikan Bawahan Pengepul <i>Commitment Fee</i> Rp10 Ribu per Paket Bansos
    Suasana sidang pembacaan dakwaan terdakwa Presiden Direktur PT Tiga Pilar Agro Harry Van Sidabukke dan konsultan hukum Ardian Iskandar Maddanatja, Rabu, 24 Februari 2021. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez



    Jakarta: Eks Menteri Sosial Juliari P Batubara diduga memerintahkan pengumpulan commitment fee Rp10 ribu per paket bantuan sosial (bansos) sembako. Instruksi ditujukan kepada dua pejabat pembuat komitmen (PPK) bansos Kementerian Sosial (Kemensos) Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso.

    Masalah itu tertuang dalam surat dakwaan terhadap terdakwa Ardian Iskandar Maddanatja. Ardian didakwa menyuap Juliari terkait bansos sembako di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada 2020.






    "Juliari mengarahkan Matheus dan Adi untuk mengumpulkan uang commitment fee sebesar Rp10 ribu paket dan juga uang fee operasional dari penyedia bansos sembako," kata jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Muhammad Nur Azis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Februari 2021.
     
    Baca: Penyuap Eks Mensos Juliari Hadapi Sidang Perdana

    Menurut jaksa, commitment fee itu dikumpulkan dari perusahaan pelaksana pengadaan bansos. Pelaksanaan pengadaan bansos itu dibagi dalam 12 tahap.

    Tahapan itu dimulai pada April hingga November 2020 dengan jumlah setiap tahapnya mencapai 1,9 juta paket sembako. Total ada 22,8 juta paket sembako.

    Juliari sempat mengevaluasi commitment fee itu sekitar Mei 2020. Berdasarkan laporan Adi dan Matheus, tidak seluruh penyedia bantuan sosial sembako Jabodetabek memberikan uang commitment fee. Pembagian alokasi kuota dan perusahaan calon pelaksana pengadaan bantuan sosial sembako diatur melalui persetujuan Juliari di tahap selanjutnya. 

    Tim Teknis Menteri Sosial, Kukuh Ary Wibowo, dan Adi mencatat jumlah kuota serta perusahaan vendor pengadaan bansos sembako. Catatan itu lalu diberikan kepada Matheus. Kemudian perusahaan itu berkoordinasi dengan Matheus terkait teknis pengadaan bansos sembako.

    Akhir Mei 2020, Juliari di ruang kerjanya menanyakan realisasi commitment fee tersebut. Namun, Matheus masih mengumpulkan data.

    "Bertempat di ruang kerja (mantan) Menteri Sosial, Juliari memanggil Adi dan Matheus guna meminta laporan pengumpulan uang commitment fee. Selanjutnya, menanyakan perusahaan-perusahaan yang belum menyetorkan uang commitment fee," ujar jaksa.

    Menjelang tahap 7 pengadaan bansos pada Juli 2020, Juliari mengadakan pertemuan terkait pembagian kuota 1.900.000 paket sembako. Sebanyak 300 ribu paket dikelola Adi dan Matheus. Sebagian kuota itu disebut untuk kepentingan bina lingkungan, yaitu dibagi-bagi kepada sekretaris jenderal, direktur jenderal, dan para pejabat lainnya, baik di lingkungan Kemensos maupun pada kementerian dan lembaga lain.

    Sebagian dari paket tersebut dikerjakan Ardian melalui PT Tiga Pilar Agro. Ardian diduga memberikan total Rp1,95 miliar kepada Juliari, Adi, dan Matheus atas penunjukkannya sebagai penyedia bansos sembako. Ardian didakwa dengan Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id