Komnas HAM: Sempat Baku Tembak di Rute Karawang

    Adri Prima - 08 Januari 2021 18:24 WIB
    Komnas HAM: Sempat Baku Tembak di Rute Karawang
    Peluru menembus kaca mobil saat insiden FPI-Polisi (dok.medcom)
    Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan sempat terjadi baku tembak antar laskar Front Pembela Islam (FPI) dengan polisi di rute Karawang. Baku tembak terjadi sebelum terjadi insiden tewasnya enam orang laskar FPI. Untuk itu, Komnas HAM akan mencoba menindaklanjuti kepemilikan senjata api yang digunakan laskar FPI.

    Komisioner Komnas HAM sekaligus Ketua Tim Penyelidikan dan Pemantauan Komnas HAM Choirul Anam menyampaikan investigasi dilakukan Komnas HAM secara independen dengan memeriksa temuan-temuan fakta, termasuk memeriksa lokasi kejadian. Rekaman suara sudah dikumpulkan dan diperoleh hingga 137 ribu lebih tangkapan gambar.

    "Hasilnya dapat skema jalan dari sentul sampai gerbang tol. Siapa saja yang ngomong ada di voice note," kata Choirul saat konferensi pers, Jumat, 8 Januari 2021.

    Anam mengemukakan, Komnas HAM memperoleh gambaran adanya ketegangan eskalasi rendah dari Sentul sampai Pintu Tol Tol Karawang Timur. Eskalasi rendah ini ditandai dengan belum adanya gesekan antara rombongan FPI dan petugas karena jarak kendaraan masih jauh.

    Fakta yang ditemukan Komnas HAM yakni terdapat kendaraan Laskar FPI memiliki kesempatan menjauh dari petugas. Namun, kata Anam, hal tersebut tidak dilakukan. Temuan itu diperoleh dari tangkapan gambar CCTV milik Jasa Marga dan rekaman suara diperoleh.

    "Ini yang juga penting salah satu temuan kami terdapat konteks kesempatan untuk menjauh oleh mobil FPI dari petugas, namun malah mengambil tindakan menunggu petugas," terang Anam.

    Eskalasi sedang kemudian terjadi saat dua kendaraan rombongan FPI dan memperlambat laju untuk mengalihkan petugas yang menguntit. Eskalasi sedang berupa kendaraan yang mulai memepet dan jarak semakin dekat ini terjadi dari pintu Tol Karawang Timur ke sekitar Hotel Swissbell Karawang.

    "Eksalasi berat Dari Swissbell Karawang sampai Pintu Tol  Karawang Barat," ucap Anam.

    Komnas HAM menekankan telah menggelar uji balistik terhadap selongsong yang mereka temukan di lokasi. Dari temuan ini, Anam mengatakan ada dua selongsong peluru yang diduga merupakan senjata rakitan milik anggota FPI.  Selain itu, ada juga tiga selongsong peluru yang diduga milik anggota polisi.

    "Proses uji balistik ini sangat terbuka, melibatkan masyarakat sipil dan ahli dari Pindad," ujar Anam.

    Cek ribuan video dan foto

    Untuk menyelesaikan laporan final, Komnas HAM harus mendalami bukti-bukti 9.942 video dan 137 ribu foto yang berkaitan dengan insiden tersebut. Hasil pengamatan dan analisis dari bukti-bukti video dan foto itu dinilai sangat penting sebelum mengumumkan hasil rekomendasi akhir.

    Dalam penyelidikan kasus ini, Komnas HAM telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi peristiwa, Karawang, pada 8 Desember 2020. Komnas HAM juga telah membentuk tim penyelidikan sesuai mandat Komnas HAM Pasal 89 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM sejak 7 Desember 2020. 

    Bentrok polisi dan FPI terjadi pada Senin dini hari, 7 Desember 2020, di ruas tol Jakarta-Cikampek. Insiden ini menyebabkan enam anggota laskar FPI meregang nyawa. 

    Polisi dan FPI juga memiliki keterangan berbeda terkait kejadian itu. Polisi mengklaim anggota FPI lebih dulu melakukan penembakan, sedangkan FPI menuding polisi berbohong karena laskar FPI tidak pernah dipersenjatai. 

    Komnas HAM: Polisi melanggar HAM

    Komisioner Komnas HAM Choirul Anam secara tegas menyatakan bahwa peristiwa di Tol Karawang KM 50 tersebut sebagai bentuk peristiwa pelanggaran HAM. 

    "Terdapat 4 orang masih hidup dalam penguasaan resmi petugas negara yang kemudian ditemukan tewas, maka peristiwa tersebut bentuk peristiwa pelanggaran HAM," ujar Choirul Anam dalam konferensi pers di kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Jumat (8/1). 

    Fakta kedua yaitu masih terkait dengan menghilangkan nyawa. Namun dalam kasus ini Polisi melakukan penembakan 4 orang laskar FPI dalam satu waktu tanpa ada upaya menghindari jatuh korban jiwa. "Ini mengindikasikan ada tindakan 'unlawfull killing' terhadap laskar FPI," beber Choirul Anam. 

    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id