Saksi Ungkap Kesaktian Matheus Joko Mengurus Proyek Kemensos

    Juven Martua Sitompul - 05 April 2021 20:17 WIB
    Saksi Ungkap Kesaktian Matheus Joko Mengurus Proyek Kemensos
    Ilustrasi sidang di Pengadilan Tipikor. Medcom.id/Candra Yuri Nuralam



    Jakarta: Direktur PT Hamonangan Sude, Rajif Bachtiar Amin, mengungkap kesaktian kedua terdakwa kasus dugaan suap bantuan sosial (bansos) covid-19, Harry Van Sidabukke dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Sosial (Kemensos) Matheus Joko Santoso. Di tangan keduanya izin pengadaan bansos mudah.

    Kesaktian keduanya diungkapkan Rajif saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan dugaan suap bansos di Pengadilan Tipikor. Saat itu, anak buah Rajif, mengeluh kesulitan untuk mendapat tanda tangan Joko. Namun, tanda tangan itu mudah didapatkan saat Harry yang memintanya.






    "Pernah tidak stafnya saksi bernama Siska mengeluh tidak pernah mendapat tanda tangan Pak Joko, kecuali Harry yang meminta?” tanya Harry saat menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 5 April 2021.

    Mendapat pertanyaan itu, Rajif mengatakan tanda tangan surat penunjukan penyedia barang dan jasa (SPPBJ) itu sulit didapatkan. Tetapi tidak sulit jika Harry yang meminta tanda tangan ke Joko.

    "Pernah, saya lupa pastinya. Kayaknya lebih dari satu kali," ucap Rajif.

    Harry kembali mempertanyakan pengakuan Rajif. “Jadi betul harus saya ya yang mintakan?" ujar Harry.

    "Iya betul," jawab Rajif.

    Baca: Saksi Sebut Pembayaran Paket Bansos Ditahan Jika Tak Membayar Fee 12 Persen

    Direktur Utama PT Tigapilar Argo Utama Ardian Iskandar Maddanatja dan konsultan hukum Harry Van Sidabukke didakwa menyuap mantan Menteri (Mensos) Juliari Peter Batubara Rp3,2 miliar. Suap tersebut diduga untuk memuluskan penunjukan perusahaan penyedia bansos di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) tahun anggaran 2020.

    Harry diduga memberikan suap senilai Rp1,28 miliar kepada Juliari. Sedangkan Ardian diduga memberi suap sebesar Rp1,95 miliar.

    Pemberian suap dari kedua terdakwa, yakni Harry Van Sidabuke dan Ardian Iskandar Maddanatja dilakukan secara bertahap. Uang suap itu diduga mengalir kepada kedua PPK bansos Kemensos untuk periode Oktober- Desember 2020, Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso. Uang diberikan untuk pengadaan bansos periode berbeda.

    Harry diduga memberikan uang untuk memuluskan mendapatkan paket pengadaan bansos sebanyak 1.519.256. Pengadaan paket itu dilakukan melalui PT Pertani (Persero) dan melalui PT Mandala Hamonangan Sude.

    Sedangkan Ardian diduga memberikan uang itu agar mendapatkan penunjukan pengadaan paket bansos melalui PT Tigapilar Agro Utama. Paket bansos tersebut untuk tahap 9, tahap 10, tahap komunitas, dan tahap 12 sebanyak 115 ribu paket.

    Harry dan Ardian didakwa Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.


    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id