Kuasa Hukum Novel Heran Polri Bantu Pelaku Penyiram Air Keras

    Fachri Audhia Hafiez - 14 Mei 2020 15:37 WIB
    Kuasa Hukum Novel Heran Polri Bantu Pelaku Penyiram Air Keras
    Penyidik KPK Novel Baswedan. MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Anggota tim advokasi korban penyiraman air keras Novel Baswedan, Kurnia Ramadhana, mempertanyakan kapasitas Polri membantu terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette. Polri memberikan bantuan hukum kepada pelaku penyiraman air keras terhadap Novel itu.

    "Penting untuk ditegaskan bahwa institusi kepolisian sebenarnya tidak diwajibkan memberikan pendampingan hukum terhadap anggota Polri yang sedang menghadapi proses hukum. Sepanjang yang bersangkutan tidak sedang dalam menjalankan tugas," kata Kurnia di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020.

    Kurnia menyebut bila bantuan dipandang sebagai kewajiban, maka timbul pertanyaan apakah penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan merupakan bagian dari tugas Polri. Sebab, dua terdakwa mesti diberikan pendampingan hukum.

    "Jika setiap anggota dibolehkan mengajukan permohonan permintaan bantuan hukum kepada instansi Polri, apa argumentasi logis dari Polri ketika mengabulkan permohonan pemberian bantuan hukum?" ujar Kurnia.

    Apalagi, Kapolri Jenderal Idham Azis sempat menyatakan keprihatinan pelaku berasal dari Polri. Pernyataan tersebut, menurut Kurnia, mestinya menjadi landasan tak memberikan bantuan hukum.

    (Baca: Tim Advokasi Singkap Sembilan Kejanggalan Persidangan Novel)

    Dia menyebut penanganan perkara dilakukan Polri. Korps Bhayangkara mestinya telah mengetahui perkara ini sejak awal. Kurnia juga heran perlindungan hukum mesti diberikan, padahal pelaku telah menyerang Novel sebagai penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga penegak hukum.

    "Logika sederhana saja, dua terdakwa sudah mengaku melakukan kejahatan tersebut dengan motif tertentu, mengapa instansi Polri masih memberikan pendampingan hukum?" ucap Kurnia.

    Sebelumnya, penasihat hukum Novel keberatan Polri memberikan pendampingan hukum kepada kedua terdakwa itu. Kepala Divisi Humas Polri, Brigjen Argo Yuwono, menilai pendampingan hukum sesuai prosedur.

    "Divisi hukum Polri salah satu tugasnya memberikan pendampingan kepada anggota yang bermasalah dengan hukum. Kalau keberatan di persidangan ya, disampaikan dalam sidang," ujar Argo.

    Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette didakwa melakukan penganiyaan berat kepada Novel secara bersama-sama dan direncanakan. Keduanya menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) ke badan dan muka Novel.
     
    Perbuatan Rahmat dan Ronny membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.
     
    Ronny dan Rahmat didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id