Dendam Penyerang Novel Dinilai Janggal

    Candra Yuri Nuralam - 31 Desember 2019 08:10 WIB
    Dendam Penyerang Novel Dinilai Janggal
    Ketua Wadah Pegawai KPK Novel Baswedan di lobi Gedung KPK, Rasuna Said, Jakarta. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Dendam tersangka RB terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dianggap janggal. Kasus penyiraman air keras terhadap Novel dinilai terlalu kompleks jika hanya didasari dendam belaka. 

    "Kecil kemungkinan (didasari dendam) dengan asumsi falsifikasi antara lain jika kejahatan atas dasar dendam umumnya dilakukan oleh lingkaran orang dekat," kata kriminolog Lucky Nurhadiyanto kepada Medcom.id, Selasa, 31 Desember 2019.

    Selain itu, pelaku kejahatan didasari dendam biasanya berusaha mengeluarkan semua emosinya kepada korban saat penyerangan. Pelaku bahkan bisa nekat menghabisi korban karena termakan dendam.

    Menurut dia, pelaku pun lazimnya berusaha menghilangkan jejak usai kejahatan terlaksana. Hal itu dinilai terbalik dengan kasus Novel yang hanya sebatas teror.

    Lucky menilai jika motif penyerangan Novel didasari dendam, kejahatan yang dilakukan pelaku bias target dan tujuan. Dalam dunia kriminologi, kata dia, hal itu dapat dikatakan sebagai kejahatan struktural.

    "Kejahatan struktural akan menghadirkan pendefinisian pelaku dan korban atas dasar dominasi kekuasaan," tutur jebolan Universitas Indonesia (UI) itu.

    Dosen Universitas Budi Luhur ini berpendapat motif RB tidak berkesinambungan dengan kesimpulan Tim Pencari Fakta (TPF) yang menyebut penyerangan berhubungan dengan pekerjaan Novel. Kedua yang ditangkap diduga hanyalah suruhan dari orang lain.

    "Dalam rasionalitas yang lain, jika memang motifnya adalah balas dendam maka dapat kita simpulkan sebagai oknum. Variabelnya bisa jadi tuntutan kerja, demanding terhadap penghargaan, ekonomi, hingga lemahnya ikatan diri dengan instansi" terang Lucky.

    Novel Baswedan disiram dengan air keras oleh dua orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017. Penyidik senior KPK itu menjadi korban teror usai salat Subuh di Masjid Jami Al Ihsan, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
     
    Pada eranya, eks Kapolri Jenderal Tito Karnavian membentuk Tim Pencari Fakta untuk membedah kasus Novel. Tim yang terdiri dari beragam ahli itu menyimpulkan penyerangan ini terkait pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK.
     
    Pengusutan kasus Novel kemudian dilanjutkan Tim Teknis yang bekerja mulai Kamis, 1 Agustus 2019. Tim yang berisikan personel dengan beragam kemampuan khusus ini bekerja secara senyap.
     
    Presiden Joko Widodo mengultimatum Kapolri Jenderal Idham Azis, yang baru dilantik Jumat, 1 November 2019, untuk mengungkap penyerang Novel secepatnya. Tersangka RM dan RB akhirnya ditangkap Kamis, 26 Desember 2019.
     
    Dua polisi penyerang Novel itu kini dijebloskan di Rumah Tahanan (Rutan) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri untuk 20 hari pertama. RB sempat berteriak mencela Novel saat hendak masuk mobil tahanan.

    "Tolong dicatat saya enggak suka sama Novel karena dia pengkhianat," ungkap RB.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id