KPK Membantah Kinerja Era Firli Bahuri Mengendur

    Candra Yuri Nuralam - 26 Juni 2020 08:14 WIB
    KPK Membantah Kinerja Era Firli Bahuri Mengendur
    Ilustrasi. Media Indonesia.
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah kinerja lembaganya di era Firli Bahuri mengendur. KPK menetapkan puluhan tersangka tahun ini.

    "Setidaknya ada 30 surat perintah penyidikan dengan total 36 tersangka penyidikan dalam kasus," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Kamis, 26 Juni 2020.

    Ali memerinci 36 tersangka itu terdiri dari operasi tangkap tangan (OTT) pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan daerah Sidoarjo. Lalu, pengembangan suap anggota DPRD Sumatra Utara dan anggota DPRD Muara Enim, pengembangan kasus proyek pengadaan jalan di Bengkalis, dan kasus dugaan korupsi di PT Dirgantara Indonesia.

    Beberapa kasus yang tengah ditangani saat ini pun disebut kelas kakap. Kerugian negara atas perkara itu diklaim mencapai ratusan miliar.

    "Kasus Bengkalis dengan nilai proyek Rp2,5 triliun ditemukan dugaan kerugian keuangan negara Rp475 miliar. Kasus PT DI dugaan kerugian negara sebesar Rp205,3 miliar dan US$8,65 juta," ujar Ali.

    Baca: Pemberantasan Rasuah Dinilai Mengendur di Era Firli

    KPK juga berhasil menangkap mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi yang buron selama empat bulan bersama menantunya, Rezky Herbiono. Termasuk menangkap Ketua DPRD Kabupaten Muara Enim, Aries HB, dan mantan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim, Ramlan Suryadi.

    "Selama semester I ini juga telah dilakukan penahanan terhadap 27 orang tersangka," ujar Ali.

    Ali mengeklaim total pemulihan aset di tahun ini tinggi. KPK telah menyetorkan uang denda dan rampasan Rp63.068.521.381 ke kas negara.

    KPK tetap terbuka menerima kritik. Lembaga Antirasuah akan menjadikan kritik sebagai evaluasi kinerja ke depannya.

    "Kalau ada data yg keliru bisa dikoreksi, tapi jika memang pembacaan dan rekomendasinya tepat tentu bisa bermanfaat sebagai masukan untuk KPK," ucap Ali.

    Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Transparency International Indonesia (TII) menyoroti kinerja KPK era kepemimpinan Firli Bahuri. Pemberantasan rasuah dinilai mengendur. ICW dan TII memberikan 'rapor merah' kepada KPK.

    "Aspek penindakan dan pencegahan, yang mana juga tidak menunjukkan perkembangan signifikan dibanding kepemimpinan sebelumnya," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam diskusi virtual bertajuk 'Peluncuran Hasil Pemantauan Kinerja KPK Semester I', Kamis, 25 Juni 2020.



    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id