Novel: Terjadi Kekompakan Saat Persidangan Penyiraman Air Keras

    Fachri Audhia Hafiez - 19 Mei 2020 02:03 WIB
    Novel: Terjadi Kekompakan Saat Persidangan Penyiraman Air Keras
    Penyidik KPK Novel Baswedan (kedua kanan) selaku korban berbincang dengan JPU dalam sidang lanjutan kasus penyiraman air keras terhadap dirinya di PN Jakarta Utara, Jakarta, Kamis, 30 April 2020. Foto: Antara/Aprillio Akbar
    Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebut terjadi kekompakan oleh beberapa pihak saat persidangan terdakwa penyiraman air keras. Persidangan dinilai tidak sesuai untuk mengungkap fakta peristiwa.

    "Karena persidangan itu harus dibuktikan. Tapi tiba-tiba seperti ada sesuatu kekompakan disana," kata Novel dalam diskusi virtual, Senin, 18 Mei 2020.

    Salah satu yang disoroti Novel ialah cairan yang digunakan untuk penyerangan pada Selasa, 11 April 2017. Dalam dakwaan dua penyerang Novel, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette, cairan itu disebut merupakan asam sulfat (H2SO4) atau kerap disebut air aki.

    "Saya melihat ada pesan disana gambaran penyerang itu menggunakan air aki untuk menyerang kepada diri saya. Hakim pun dalam beberapa perkataan mengatakan bahwa air aki yang digunakan," ucap Novel.

    Novel sudah memastikan cairan tersebut bukan air aki. Aroma dan dampak yang ditimbulkan dari cairan yang disiram tersebut cukup serius.

    Ia menambahkan saksi yang menolongnya saat penyerangan terjadi juga menghirup aroma sangat menyengat dari cairan itu. Sisa cairan dalam gelas dan botol yang digunakan pelaku juga mengeluarkan aroma sama.

    Efek yang ditimbulkan dari cairan tersebut membuat beton di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) penyiraman melepuh. Cairan yang menempel di baju Novel juga tampak mengeluarkan asap.

    "Ketika dipegang dengan menggunakan tangan biasa tanpa alat bantu itu terasa sangat panas. Tentu itu bukanlah ciri-ciri dari air aki, itu jelas menunjukkan air keras. Ditambah dengan efek ke muka saya yang sangat panas," beber Novel.

    Baca: Novel Sebut Saksi Penting Tak Dihadirkan di Persidangan

    Novel sempat bersaksi untuk Ronny dan Rahmat. Di hadapan majelis, Novel keberatan disebut cairan yang digunakan untuk menyiramnya disebut air aki.

    "Sampai sekarang pun mohon maaf saya enggak melihat wajah yang mulia. Bahkan posisi badan yang mulia saya enggak melihat. Dokter dari Singapura mengatakan mata saya tidak bisa diobati yang kanan dan saya melihatnya dengan alat bantu," ucap Novel, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis, 30 April 2020.

    Ronny dan Rahmat didakwa melakukan penganiyaan berat kepada Novel secara bersama-sama dan direncanakan. Perbuatan itu berupa menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) ke badan dan muka Novel.

    Perbuatan Ronny dan Rahmat membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.

    Ronny dan Rahmat didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id