OTT Wahyu Setiawan Jadi Guncangan Berat KPU

    Antara - 10 Januari 2020 20:14 WIB
    OTT Wahyu Setiawan Jadi Guncangan Berat KPU
    Komisioner KPU Wahyu Setiawan/Antara/Dhemas Reviyanto
    Jakarta: Kasus suap pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan disebut menjadi guncangan berat bagi KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu. Apalagi, Komisioner KPU Wahyu Setiawan terlibat dalam praktik kotor tersebut.

    "OTT ini menjadi guncangan berat bagi KPU," kata peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Fadli Ramadhanil di Jakarta, Jumat, 10 Januari 2020.

    Menurut Fadli, jajaran KPU harus segera mengembalikan kepercayaan publik dengan berbagai upaya. Di sisi lain pengawasan koalisi masyarakat sipil bersama media massa harus ditingkatkan.

    "Jika KPU RI (komisionernya) bisa melakukan (terlibat dugaan suap), bagaimana KPU daerah? Pemikiran publik pasti ke arah itu," ujarnya.

    Secara terpisah, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI akan mengadukan Wahyu ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Status keanggotaan Wahyu diharap segera jelas dan berkepastian hukum dengan putusan DKPP nantinya.

    "Dalam konteks kode etik penyelenggara, Bawaslu akan mengadukan yang bersangkutan WS ini ke DKPP dengan gugatan pelanggaran kode etik, yaitu melanggar sumpah janji," kata Ketua Bawaslu RI Abhan.

    Wahyu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada Kamis, 9 Januari 2020. Wahyu diduga menerima suap terkait penetapan anggota DPR terpilih 2019-2024.
     
    Suap itu diberikan kader PDI Perjuangan Harun Masiku. Tujuannya, agar Wahyu memuluskan jalan Harun menjadi anggota DPR daerah pemilihan Sumatera Selatan I menggantikan caleg DPR terpilih Fraksi PDI Perjuangan Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia.
     
    Untuk memenuhi permintaan Harus, Wahyu meminta dana operasional Rp900 juta. Namun, Wahyu hanya menerima Rp600 juta.
     
    Suap itu diduga diterima Wahyu dalam dua tahap. Pertama, pada pertengahan Desember 2019. Saat itu, Wahyu menerima uang dari orang kepercayaannya, Agustiani Tio Fridelina, Rp200 juta di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
     
    Uang ini didapat Agustiani dari Saeful, pihak swasta, namun KPK masih mendalami dari siapa sumber uang Rp200 juta itu.
     
    Wahyu diduga kembali menerima suap Rp400 juta pada akhir Desember 2019. Uang tersebut masih ada di tangan Agustiani. Agustiani menerima uang itu dari Harun yang diberikan lewat Saeful.



    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id