Polri Ngeri Membaca Percakapan Grup WA KAMI

    Antara - 13 Oktober 2020 21:55 WIB
    Polri Ngeri Membaca Percakapan Grup WA KAMI
    Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menyampaikan keterangan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 29 September 2020. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana
    Jakarta: Mabes Polri memastikan penangkapan pegiat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) berdasarkan bukti permulaan yang kuat. Hal ini meliputi tangkapan layar percakapan grup WhatsApp (WA), proposal, hingga unggahan di media sosial.

    "Kalau rekan-rekan membaca WA-nya, ngeri. Pantas kalau di lapangan terjadi anarkistis. Itu mereka masyarakat yang tidak paham betul, gampang tersulut," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Awi Setiyono di Kantor Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta, Selasa.

    Awi menjelaskan dari delapan pegiat KAMI yang ditangkap di Jakarta dan Medan, tidak semuanya tergabung dalam satu grup WA. Namun, tiap orang yang ditangkap memang sudah dipantau polisi.

    Dia belum mau membeberkan sejak kapan percakapan yang membahas penghasutan dengan ujaran kebencian bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) itu dimulai. Hal ini sudah masuk dalam ranah penyidikan. 

    Awi hanya menerangkan penghasutan dari pegiat KAMI berkaitan dengan demo penolakan Undang-Undang UU Cipta Kerja (UU Ciptaker). Unjuk rasa ini berujung ricuh di berbagai kota besar di Indonesia.

    "Patut diduga mereka (pegiat KAMI) memberikan informasi yang menyesatkan, berbau SARA, dan penghasutan," imbuh Awi.

    Jenderal bintang satu itu memastikan pegiat KAMI yang ditangkap telah merencanakan penghasutan hingga terjadi perusakan fasilitas umum. Mereka juga ingin menyerang aparat.

    "Mereka memang merencanakan sedemikian rupa untuk membawa ini, membawa itu, melakukan perusakan itu ada, semua terpapar jelas (dalam grup WA)," tutur Awi.

    Terkait dugaan adanya pihak yang membiayai demo, Awi tidak menjelaskan detail. Namun, hal itu ada di proposal yang menjadi barang bukti. 

    Baca: Penjelasan DPR Terkait Perbedaan Jumlah Halaman UU Ciptaker

    Delapan pegiat KAMI ditangkap polisi yakni Juliana, Devi, Wahyu Rasari Putri, Khairi Amri, Kingkin Anida, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat. Lima orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri.

    Mereka diduga melanggar Pasal 45 A ayat 2 Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 160 KUHP tentang penghasutan. Mereka terancam hukuman hingga enam tahun penjara.

    (OGI)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id