Komnas HAM: Korupsi Tidak Bisa Dihukum Mati

    Candra Yuri Nuralam - 21 Februari 2021 13:12 WIB
    Komnas HAM: Korupsi Tidak Bisa Dihukum Mati
    Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam diskusi Chrosscheck by Medcom.id dengan tema Saat Kapolsek Yuni Pesta Sabu & Eks Menteri Korupsi.



    Jakarta: Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) menilai pelaku korupsi tidak bisa dihukum mati. Menghukum mati koruptor disebut melanggar aturan internasional.

    "Hukuman mati itu hanya diizinkan untuk tindak pidana yang disebut the most serious crime (seperti pelanggaran HAM berat)," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam diskusi Chrosscheck by Medcom.id dengan tema Saat Kapolsek Yuni Pesta Sabu & Eks Menteri Korupsi, Minggu, 21 Februari 2021.




    Taufik mengatakan hanya ada empat kejahatan yang tergolong pelanggaran HAM berat yang boleh dihukum mati dalam aturan internasional. Yakni, genosida, kejahatan kemanusiaan, agresi, dan kejahatan perang.

    "Korupsi, narkoba dan lain-lain itu tidak termasuk itu (pelanggaran HAM berat)," ujar Taufik.

    Menurut Taufik, korupsi berada satu tingkat di bawah pelanggaran HAM berat. Sehingga, kata dia, penggunaan hukuman mati untuk pelaku korupsi masih sulit dilakukan. Bahkan, katanya, bisa menimbulkan kontroversi.

    "Maka itu pasti akan dipersoalkan," tutur Taufik.

    Baca: Bukan Hukuman Mati, Begini Cara Hapus Korupsi Versi Eks Ketua KPK

    Taufik mengamini hukuman mati untuk perilaku korupsi di tengah pandemi dibolehkan dalam aturan yang berlaku. Bahkan, kata dia, Mahkamah Konstitusi (MK) tidak menilai hukuman mati melanggar Undang-Undang Dasar 1945.

    "Tapi ini belum selaras dengan pernyataan hukum tingkat global, meski masih memberikan ruang bagi negara yang masih mengakui hukuman mati itu boleh diterapkan the most serious crime," ucap Taufik.

    Dia meminta wacana hukuman mati diperhatikan matang-matang. Ekseskusi mati pelaku korupsi tidak boleh dilakukan hanya karena emosi.

    "Kita perlu diskusikan dalam konteks kemanfaatan, dan harus memikirkan sentimen. Karena sering kali ide-ide seperti ini dalam rangka menangkap sentimen masyarakat yang marah," tegas Taufik.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id