Komnas HAM Sebut 6 Laskar Khusus Pengawal Rizieq Miliki Senpi

    Siti Yona Hukmana - 08 Januari 2021 20:07 WIB
    Komnas HAM Sebut 6 Laskar Khusus Pengawal Rizieq Miliki Senpi
    Mobil polisi yang diserang pengikut Rizieq/Medcom.id/Siti Yona Hukmana
    Jakarta: Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) selesai melakukan  pengujian atas barang bukti yang ditemukan dalam peristiwa penembakan enam laskar khusus pengawal Rizieq Shihab. Eks anggota Front Pembela Islam (FPI) itu terbukti menggunakan senjata api saat peristiwa tersebut.

    Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Choirul Anam, mengatakan pihaknya menguji senjata petugas dan senjata non-pabrikan atau rakitan yang diduga digunakan oleh FPI. Ada tujuh barang bukti yang diduga bagian dari proyektil peluru ditemukan Komnas HAM di tempat kejadian perkara (TKP).

    "Didapati bahwa dua barang bukti bukan bagian dari proyektil dan lima barang bukti merupakan bagian dari proyektil. Dari lima proyektil tersebut, dua identik dengan senjata non-rakitan, satu dari rakitan gagang coklat dan satu tidak bisa diidentifikasi dari senjata rakitan yang mana," kata Anam dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat, 8 Januari 2021.

    Senjata rakitan gagang coklat itu sebelumnya disebut diduga milik FPI. Polisi sempat menyita senjata api rakitan gagang coklat tersebut.

    Sementara tiga proyektil lainnya, kata Anam, jenis senjatanya tidak bisa teridentifikasi. Sebab, proyektil telah terjadi kondisi perubahan yang besar atau deformasi dan dua bukan bagian dari anak peluru.

    "Sebanyak empat barang bukti yang diduga bagian dari selongsong (diuji) dan dinyatakan satu barang bukti bukan bagian dari selongsong peluru dan tiga selongsong peluru identik dengan senjata petugas kepolisian," kata Anam.

    Baca: Motif 6 Laskar FPI Menembak Polisi Belum Diketahui

    Anam menuturkan proses pemeriksaan dan pengujian barang bukti itu dilakukan oleh tim Laboratorium Forensik (labfor) Polri atas permintaan tim penyelidikan Komnas HAM. Pengujian itu didampingi oleh ahli dari PT Pindad (Persero), perusahaan yang bergerak dalam pembuatan produk militer.

    "Ada juga pengawasan langsung di lokasi selama proses oleh masyarakat sipil yang bergerak di bidang hukum dan HAM," ucap Anam.

    Dengan begitu, telah terjadi baku tembak antara polisi dan eks anggota FPI. Peristiwa itu menewaskan enam pengikut Rizieq. Dua tewas saat baku tembak di jalan tol.

    Sedangkan, empat lainnya tewas di dalam mobil karena menerima tindakan tegas dan terukur. Keempat orang itu disebut melakukan perlawanan saat dibawa menuju ke Polda Metro Jaya.

    Penembakan empat orang ini dinilai Komnas HAM melanggar HAM. Sebab, polisi tidak melakukan upaya lain untuk menghindari semakin banyaknya korban jiwa atas insiden itu.

    "Mengindikasikan adanya tindakan unlawfull killing terhadap empat orang anggota laskar FPI," kata Anam.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id