Uji Materi UU Pers Gugur di MK

    Fachri Audhia Hafiez - 04 Mei 2021 20:47 WIB
    Uji Materi UU Pers Gugur di MK
    Ilustrasi/Medcom.id



    Jakarta: Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Permohonan ditolak untuk seluruhnya.

    "Menyatakan permohonan pemohon tidak dapat diterima," ujar Ketua Majelis Hakim MK Anwar Usman di Gedung MK, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Mei 2021.






    Permohonan ini diajukan mantan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Charlie Wijaya. Perkara tercatat bernomor 104/PUU-XVIII/2020.

    Pada pertimbangannya, Charlie dinilai tidak menguraikan mengenai inkonstitusional norma UU Pers. Permohonan tersebut lebih banyak menguraikan kasus konkret yang dialami Charlie.

    MK menilai permohonan Charlie terkait kerugian yang dialami masuk ranah perdata. Selain itu, permohonan yang diajukan Charlie lebih ke arah formal, bukan materiel terkait UU Pers.

    Permohonan tersebut pun dianggap samar. Mahkamah juga tidak menentukan kedudukan hukum atau legal standing pemohon.

    Baca: Dewan Pers Sebut Kebebasan Pers Menghadapi Disrupsi Media Sosial

    "Permohonan pemohon kabur dan tidak dipertimbangkan lebih lanjut," ujar Anwar.

    Gugatan tersebut diajukan Charlie karena merasa UU Pers tidak berpihak kepada korban. Charlie merasa dirugikan hak konstitusionalnya oleh pemberitaan media terhadap dirinya.

    Sebelumnya, pemohon menjadi korban pemberitaan media dengan judul 'Minta Maaf Usai Menuduh Seorang Komika Bernama Bintang Emon Menggunakan Narkoba'. 

    “Akibat pemberitaan tersebut, saya anggap telah mencemarkan nama baik saya, dan menghancurkan reputasi saya, dan berita itu tidak benar. Saya mencoba melaporkan kepada kepolisian, namun polisi menolak dengan alasan hal itu adalah produk media," beber Charlie Selasa, 15 Desember 2020.

    Dia sempat mengadu ke Dewan Pers pada 2 September 2020. Hasilnya, media tersebut bersalah karena melanggar Pasal 1 dan 3 Kode Etik Jurnalistik karena menyajikan berita tidak akurat, tidak uji informasi, tidak berimbang, dan memuat opini yang menghakimi. 

    "Akibat pemberitaan tersebut saya telah rugi secara immaterial. Setelah itu, media mengakui kesalahan dan meminta maaf saja, serta melayangkan hak jawab," ucap Charlie.
    Charlie sempat mengaku sebagai kader PSI. Namun, PSI membantah hal itu.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id