Bilik Asmara di Lapas Perempuan Sulit Diwujudkan

    Zaenal Arifin - 27 Februari 2020 23:42 WIB
    Bilik Asmara di Lapas Perempuan Sulit Diwujudkan
    Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Perempuan Pondok Bambu Herlina. Foto: Medcom.id/Zaenal Arifin
    Jakarta: Wacana pembentukan fasilitas bilik asmara atau conjugal visit untuk narapidana di Rumah Tahanan (Rutan) dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) perempuan tidak akan pernah terwujud. Banyak pertimbangan yang membuat wacana itu sulit terealisasi. 

    "Akan ada berapa banyak anak-anak yang nantinya lahir di dalam lapas," kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Perempuan Pondok Bambu Herlina dalam acara Media Gathering Resolusi Pemasyarakatan Tahun 2020, di Rutan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Kamis, 27 Februari 2020.

    Herlina menuturkan pertimbangan lain, seperti penyalahgunaan bilik asmara oleh oknum. Serta budaya ketimuran masyarakat Indonesia.

    "Sudah bisakah masyarakat Indonesia menerima kondisi semacam ini? Surat nikah kan juga bisa dipalsukan, ini yang menjadi pertimbangan," papar dia. 

    Herlina mengakui pemenuhan kebutuhan biologis bagi narapidana selama menjalani masa hukuman penting. Bahkan, dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara DPR dengan Kementerian Hukum dan HAM sempat menyinggung masalah ini. 

    (Baca: Novanto Tak Tahu Ada Bilik Asmara)

    "Bagi manusia dewasa tentu sangat dibutuhkan untuk meredakan emosional dan sebagainya. Namun sampai dengan saat ini masih banyak pertimbangan," kata dia. 

    Herlina mengaku orientasi seksual narapidana juga masih menjadi masalah. Sebab, ada sejumlah warga binaan perempuan memiliki ketertarikan dengan sesama jenis atau lesbian. 

    Dia menyebut pihaknya terus berupaya menemukan cara ampuh mencegah hubungan seksual antar warga binaan. Di antaranya, lewat kegiatan pembinaan kepribadian dan pelatihan kemampuan yang bersifat feminim, seperti memasak, menjahit, dan tata rias. 

    "Kita juga berikan penguatan-penguatan mental spritual mereka. Kita ingatkan kodratnya perempuan, kita coba ambil insiatif bahwa perempuan pakai rok," ujar dia. 

    Masalah ini, kata dia, sengaja diangkat untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan warga binaan. Pasalnya, bila tak dicegah penyakit itu dapat menular ke sesama warga binaan yang hidup di rutan atau lapas yang kelebihan kapasitas. 


    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id