Korupsi BTN Rugikan Uang Negara Rp50 Miliar

    Kautsar Widya Prabowo - 21 Februari 2020 06:37 WIB
    Korupsi BTN Rugikan Uang Negara Rp50 Miliar
    Gedung Kejaksan Agung RI, Jalan Sultan Hasanudin, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga
    Jakarta: Kepala Divisi Asset Management Bank Tabungan Negara (BTN) cabang Semarang dan Gersik, Satya Wijayantra, disebut sengaja mencairkan dana novasi atau pembaruan utang untuk kepentingan pribadi. Korupsi di BTN ini diduga merugikan uang negara sebesar Rp50 miliar.

    "Jadi antara pemohon kredit dengan dia (tersangka SW) terjadi pemufakatan untuk melawan hukum pada proses novasi itu. Jadi ada pihak-pihak yang diuntungkan di sini," ujar Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus pada Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, di Kompleks Kejagung, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020.

    Febrie mengatakan penyidik telah mengagendakan pemeriksaan tersangka lain pekan depan. Saat ini, penyidik masih fokus menyelesaikan berkas kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

    "Kita lihat pekan depan lah nanti dipanggilnya para tersangka. Saat ini penyidik masih fokus dulu ke Jiwasraya," ujar dia.

    Dia menolak berkoemntar soal kemungkinan penahanan para tersangka. Febrie hanya memastikan pihaknya telah mencegah ketujuh orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu untuk bepergian ke luar negeri.

    "Nanti kita lihat ya, apakah langsung ditahan atau tidak. Tergantung tim penyidik nanti," pungkasnya.

    Kejagung telah menetapkan tujuh tersangka kasus tindak dugaan korupsi Bank BTN cabang Semarang dan Gresik. Tiga dari tujuh tersangka itu merupakan pejabat di Bank BTN, sementara sisanya pihak swasta.

    Tiga pejabat BTN tersebut adalah pejabat Asset Management Division (AMD) sekaligus Ketua Serikat Pekerja BTN berinisial SW. Lalu, AMD Head Area II Bank BTN berinsial SB dan Kepala Unit Komersial Landing Bank BTN cabang Sidoarjo, AM.

    Sedangkan, empat orang tersangka pihak swasta, EGT dan ARR dari PT NAP serta LR dari PT LJP. Namun, identitas dari satu pihak swasta lainnya belum diungkap.

    Korupsi BTN Rugikan Uang Negara Rp50 Miliar
    Direktur Penyidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Febrie Ardiansyah. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

    Perkara dugaan korupsi ini berawal pada Desember 2011. Saat itu BTN cabang Gresik memberikan fasilitas Kredit Yasa Griya (KYG) kepada PT Graha Permata Wahana senilai Rp5 miliar dan menyebabkan kredit macet Rp4,1 miliar.

    Diduga kuat ada kesalahan prosedural yang dilakukan karena tidak sesuai dengan Surat Edaran Direksi BTN. Kemudian, Desember 2015, AMD Kantor Pusat BTN secara sepihak melakukan novasi (pembaharuan utang) kepada PT NAP. Plafon novasi senilai Rp6,5 miliar, tanpa ada tambahan bangunan.

    Hal itu lah menyebabkan kredit macet kembali sebesar Rp5,7 miliar. Pada November 2016 juga AMD Kantor Pusat BTN kembali melakukan novasi secara sepihak dari PT NAP kepada PT LJP Perbuatan AMD Kantor Pusat BTN itu tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada.

    Bahkan dilakukan tambahan bangunan dengan plafon kredit Rp16 miliar, hingga menyebabkan kredit macet Rp15 miliar dengan kategori kolektibilitas 5. Kejagung sempat memeriksa dugaan korupsi pemberian Kredit Yasa Griya dari Bank BTN cabang Semarang kepada Debitur PT Tiara Fatuba dan Novasi kepada PT NAP serta PT LJP.

    Kasus tersebut terjadi pada April 2019. BTN Cabang Semarang memberikan fasilitas Kredit Yasa Griya kepada PT TF Rp15,2 miliar. Prosedur pemberiannya diduga tidak sesuai dengan Surat Edaran Direksi BTN sehingga mengakibatkan kredit macet sebesar Rp11,9 miliar.



    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id