Ngabalin Laporkan 2 Media Atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

    Siti Yona Hukmana - 03 Desember 2020 22:11 WIB
    Ngabalin Laporkan 2 Media Atas Dugaan Pencemaran Nama Baik
    Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin. Medcom.id/Siti Yona Hukmana
    Jakarta: Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin melaporkan dua media ke Polda Metro Jaya. Dua media itu dipolisikan atas dugaan pencemaran nama baik.

    "Kami datang melaporkan pihak-pihak yang selama ini memang terus menerus menyebarkan berita bohong, berita yang penuh dengan fitnah, berita yang semuanya tidak sesuai fakta, sehingga untuk menghormati hak-hak konstitusi saya harus menggunakan jalan ini," kata Ngabalin di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis, 3 Desember 2020.

    Ngabalin mengatakan tujuan kedua membuat laporan agar terlapor tidak lagi menggunakan bermacam-macam diksi dan narasi untuk mencederai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia ingin laporannya dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi publik, bahwa siapa pun yang terusik dapat menggunakan hak konstitusi.

    Ngabalin menyebut dua media tersebut telah membuat berita bohong terhadap dirinya terkait kasus korupsi yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Ngabalin menegaskan konten berita dari dua media tersebut telah merugikan dirinya dan keluarganya.

    Dia mengaku akan menggunakan hak konstitusi atas semua tuduhan dan fitnah yang dilakukan dua media tersebut. "Sungguh-sungguh saya dan dan keluarga saya sangat amat dirugikan dengan semua fitnah murahan ini," tegas Ngabalin.

    Laporan Ngabalin terdaftar dengan nomor: LP/7209/XI/YAN2.5/2020/SPKT PMJ, tanggal 3 Desember 2020. Dua media yang menjadi terlapor itu atas nama Muhammad Yunus Hanis dan Bambang Beathor Suryadi.

    Baca: Edhy Bantah Beli Sepeda Pakai Uang Korupsi

    Kedua terlapor disangkakan tindak pidana pencemaran nama baik dan fitnah melalui media elektronik. Mereka dijerat Pasal 27 Ayat 3 Jo Pasal 45 ayat 3 Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 310 KUHP dan Pasal 311 KUHP.

    Ngabalin disebut berada dalam satu pesawat dengan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat pulang dari Amerika Serikat. Namun, Ngabalin tak diamankan KPK karena tidak terkait dengan kasus yang menjerat Edhy.

    Ngabalin mengaku diajak Edhy dalam kapasitas sebagai salah satu pembina di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dia mengaku sempat ditanya oleh pihak KPK siapa saja yang ada dalam rombongan tersebut.

    Ngabalin menegaskan tidak ikut dimintai keterangan oleh KPK. Ngabalin memastikan dirinya tak termasuk dalam daftar orang yang keterangannya dibutuhkan oleh KPK terkait kasus yang menjerat Edhy.

    KPK menangkap Edhy di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, pada pukul 01.23 WIB, Selasa, 25 November 2020. Politikus Gerindra itu ditetapkan sebagai tersangka korupsi ekspor benih lobster.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id