Uang Suap Edhy Prabowo Diduga Mengalir ke Organisasi Pencak Silat

    Candra Yuri Nuralam - 21 Februari 2021 08:11 WIB
    Uang Suap Edhy Prabowo Diduga Mengalir ke Organisasi Pencak Silat
    Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). MI



    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil karyawan swasta Ade Tirta Kamandanu pada Jumat, 19 Februari 2021. Lembaga Antikorupsi mendalami dana dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang diduga mengalir ke Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

    "Ade dikonfirmasi terkait dengan dugaan aliran sejumlah uang dari tersangka EP (Edhy Prabowo) untuk operasional kegiatan organisasi IPSI," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK bidang penindakan Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Sabtu, 20 Februari 2021.




    Ali enggan membeberkan total uang yang diberikan Edhy ke IPSI. Namun, Lembaga Antikorupsi itu menduga uang yang diberikan Edhy berkaitan dengan kasus dugaan suap ekspor benih lobster.

    Baca: KPK Sita Vila Edhy Prabowo di Sukabumi

    Edhy Prabowo ditetapkan sebagai tersangka bersama enam orang lainnya. Sebanyak enam tersangka diduga menerima suap. Mereka adalah Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Safri dan Andreau Pribadi Misanta, pengurus PT ACK Siswadi, istri Staf Menteri KP Ainul Faqih, Amiril Mukminin, serta Edhy Prabowo.

    Seorang tersangka diduga sebagai pemberi suap, yakni Direktur PT DPP Suharjito. Edhy diduga menerima Rp3,4 miliar dan US$100ribu dalam korupsi tersebut. Sebagian uang digunakan Edhy Prabowo untuk berbelanja bersama istri, Andreau, dan Safri ke Honolulu, Hawaii.

    Diduga, ada monopoli yang dilakukan KKP dalam kasus ini. Sebab ekspor benih lobster hanya bisa dilakukan melalui PT ACK dengan biaya angkut Rp1.800 per ekor.

    Baca: Habis Rp753 Juta di AS, Edhy Prabowo Beli Jam Rolex hingga Tas Hermes

    Edhy dan lima orang lainnya disangkakan pasal penerimaan suap. Mereka dijerat Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    Suharjito dijerat pasal pemberi suap. Dia diduga melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id