Kiprah Masa Lalu Ba'asyir, Pionir Penolakan Pancasila dan Bendera Merah Putih

    Adri Prima - 08 Januari 2021 15:33 WIB
    Kiprah Masa Lalu Ba'asyir, Pionir Penolakan Pancasila dan Bendera Merah Putih
    Abu Bakar Ba'asyir (foto: antara)
    Jakarta: Pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba'asyir, dibebaskan hari ini, Jumat, 8 Januari 2021. Ulama kontroversial ini telah melalui seluruh masa tahanan sesuai vonis pengadilan, yakni 15 tahun penjara dipotong berbagai remisi.

    Pembebasan Abu Bakar Ba'asyir akan mendapat pengawalan ketat aparat gabungan. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror turut terlibat.

    Ba'asyir divonis pada 16 Juni 2011 dengan hukuman 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Ia terbukti terlibat dalam tindak pidana terorisme serta merencanakan dan menggalang dana untuk pelatihan militer di Aceh. 

    Abu Bakar Ba'asyir merupakan salah satu ulama yang nyentrik dan penuh kontroversi. Ia tercatat memiliki rentetan kasus hukum yang membuatnya sering keluar masuk penjara.
     

    Pionir penentang Pancasila

    Lepas dari keterlibatannya dalam rentetan kasus terorisme di Indonesia, salah satu hal yang membuat Abu Bakar Baa'syir begitu dikenal. Ia menjadi pionir dalam hal menentang dan menolak Pancasila hingga menolak hormat pada Sang Saka Merah Putih. 

    Seperti yang kita tahu, isu Pancasila, NKRI harga mati dan sebagainya menjadi isu politik yang hangat di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Akan tetapi, jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 1983, Abu Bakar Baa'syir sudah lebih dulu memprovokasi masyarakat untuk menolak Pancasila dan Bendera Merah Putih. 

    Pada 1983, Abu Bakar Ba'asyir ditangkap dan divonis sembilan tahun penjara karena dituduh menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila. Dia juga melarang santrinya melakukan hormat bendera Merah Putih karena menurutnya itu perbuatan syirik. Ketika perkaranya masuk kasasi, Ba'asyir kabur ke Malaysia dan kembali ke Indonesia pada 1999. 
     

    Terlibat bom Bali

    Tahun 2002, ia ditangkap menyusul pengakuan Omar Al Faruq, tersangka Bom Bali. Kasusnya berlanjut hingga ke Mahkamah Agung. Dan akhirnya Ba'asyir divonis 1,5 tahun penjara. 

    Pada 30 April 2004, Ba'asyir dijemput paksa polisi dan dibawa ke Mabes Polri akibat tindak terorisme pengeboman Hotel JW Marriott dan Bom Bali. Ia divonis 2,6 tahun penjara lalu bebas pada Juni 2006. 

    Setelah beberapa tahun namanya menghilang, pada 9 Agustus 2010, Ba'asyir kembali ditangkap karena dinyatakan terlibat dalam pendanaan latihan teroris di Aceh. Atas dakwaan tersebut, Ba'asyir divonis hukuman penjara selama 15 tahun.
     

    Sosok Yusril Ihza Mahendra

    Pada Januari 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membebaskan Ba'asyir. Rencana Presiden menuai pro dan kontra. Jokowi pun mengutus pakar hukum Yusril Ihza Mahendra untuk berkomunikasi dengan Ba'asyir. 

    Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012, sebagai narapidana terorisme yang ingin bebas bersyarat, Ba'asyir harus menandatangani pernyataan mengakui dirinya bersalah dan setia kepada NKRI. Namun, surat tersebut nyatanya tidak ditandangani oleh Ba'asyir.

    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id