Hasil Autopsi Jenazah Pendeta Yeremia Menunggu Hingga 2 Bulan

    Theofilus Ifan Sucipto - 06 Juni 2021 16:40 WIB
    Hasil Autopsi Jenazah Pendeta Yeremia Menunggu Hingga 2 Bulan
    Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM M Choirul Anam dalam telekonferensi, Minggu, 6 Juni 2021/Medcom.id/Theofilius.



    Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan hasil pantauan ekshumasi dan autopsi jenazah Pendeta Yeremia Zanambani. Hasil autopsi baru bisa dirilis antara satu hingga dua bulan ke depan.

    “Karena ada beberapa bagian diambil dan butuh waktu saintifik untuk dibuktikan,” kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM M Choirul Anam dalam telekonferensi, Minggu, 6 Juni 2021.

     



    Choirul menyebut pengujian itu untuk memastikan penyebab kematian Yeremia. Pengujian juga untuk mengonfirmasi laporan Komnas HAM yang menyebut Yeremia meninggal karena kehabisan darah akibat tembakan.

    Selain itu, autopsi untuk memastikan apakah ada tindak kekerasan lain. Laporan Komnas HAM mengatakan ada kekerasan fisik terhadap Yeremia.

    “Apa betul ada tindak kekerasan lain, (sedang) diuji saintifik dan kami apresiasi untuk itu,” papar Choirul.

    Baca: Tim Forensik Unhas Autopsi Jasad Pendeta Yeremia Zanambani

    Sementara itu, Sekretaris Tim Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Endang Sri Melani mengatakan autopsi dilakukan pada Sabtu, 5 Juni 2021 sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Autopsi dilakukan dua institusi, yakni ahli forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar dan Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polda Papua.

    “Penggalian, autopsi, dan penguburan kembali Pendeta Yeremia memakan waktu sekitar 2,5 jam,” tutur Endang.

    Proses itu dihadiri pendamping keluarga korban dan kuasa hukum keluarga korban. Sejumlah pihak seperti Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), hingga masyarakat di distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua, ikut mengawasi proses tersebut.

    Seluruh proses dinilai cukup transparan. Indikatornya, masyarakat bisa terlibat dalam proses ekshumasi dan autopsi.

    Pendeta Yeremia menjadi korban penembakan di kandang babi, Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua, Sabtu, 19 September 2020. Pelaku diduga Anggota TNI personel Koramil Alpius Hasim Madi. 
     
    Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) menemukan luka terbuka maupun luka akibat tindakan lain pada tubuh Yeremia. Salah satunya, luka pada lengan kiri bagian dalam dengan diameter sekitar 5-7 sentimeter (cm) dan panjang sekitar 10 cm. 
     
    Luka itu diduga berasal dari timah panas yang dilepaskan dalam jarak kurang dari satu meter dari senjata api. Luka tersebut dimungkinkan akibat adanya kekerasan senjata tajam lainnya, karena melihat posisi ujung luka yang simetris. 


    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id