KPK Garap Eks Petinggi Garuda Indonesia

    Juven Martua Sitompul - 12 September 2019 11:22 WIB
    KPK Garap Eks Petinggi Garuda Indonesia
    Ilustrasi KPK - MI.
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil mantan VP Treasury Management PT Garuda Indonesia (Persero), Albert Burhan. Dia akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero).

    “Diperiksa untuk tersangka ESA (mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar),” kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

    Penyidik juga menjadwalkan pemeriksaan pegawai PT Garuda Indonesia, Rajendra Kartawiria. Keterangan para saksi dibutuhkan untuk melengkapi berkas penyidikan Emirsyah.

    KPK menetapkan Emirsyah bersama mantan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA), Soetikno Soedardjo, dan mantan Direktur Teknik dan Pengelola Armada PT Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno, sebagai tersangka. Mereka tersandung kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero). Ketiganya diduga menerima sejumlah uang dari perusahaan Rolls-Royce atas pengadaan pesawat tahun anggaran 2008-2013.

    Emirsyah dan Soetikno diduga menerima suap dalam bentuk uang transfer dan aset yang nilainya mencapai lebih dari USD4 juta atau setara Rp52 miliar dari perusahaan asal Inggris yakni Rolls-Royce. Pemberian suap melalui Soetikno dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd.

    Suap diduga terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. Emirsyah disinyalir menerima suap terkait pembelian pesawat Airbus.

    Dari hasil pengembangan, Emirsyah dan Soetikno, kembali ditetapkan sebagai tersangka kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Emirsyah diduga membeli rumah yang beralamat di Pondok Indah Rp5,79 miliar.

    Emirsyah juga diduga mengirimkan uang ke rekening perusahaannya di Singapura USD680 ribu dan EUR1,02 juta. Termasuk, melunasi apartemennya di Singapura SGD1,2 juta. Uang itu diduga dari hasil suap pengadaan pesawat di perusahaan pelat merah tersebut.

    Emirsyah dan Soetikno diduga melanggar Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id